welcome to my official blog

dream as you life forever. life likes you will die tomorrow. be the best . I do believe in fairy ! I do ! I do !

Minggu, 14 April 2013

ALEL GANDA

GENETIKA
                                                             
PERCOBAAN V
ALEL GANDA

NAMA                     : ANNISA NURUL ILMI
NIM                       : H41112328
HARI/TANGGAL : KAMIS/  28 MARET 2013
KELOMPOK         :  I (SATU) B
ASISTEN                : PINKAN C.I. TUMANDUK


LABORATORIUM GENETIKA JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang
Sebuah gen dapat memiliki lebih dari sebuah alel. Alel-alelnya disebut alel ganda (multiple allele). Sedangkan peristiwa dimana sebuah gen dapat menyebabkan inkompatibilitas, yaitu kegagalan tanaman untuk fertilisasi setelah menyerbuk sendiri atau persilangan. Peristiwa inkompatibilitas ini disebabkan alel pada tepung sari sama dengan alel pada sel telur, sehingga tepung sari yang terdapat pada kepala putik tidak dapat membentuk buluh tepung sari (Murniati,2010).
Namun, kenyataan yang sebenarnya lebih umum dijumpai adalah bahwa pada suatu lokus tertentu dimungkinkan munculnya lebih dari hanya dua macam alel, sehingga lokus tersebut dikatakan memiliki sederetan alel.Fenomena semacam inilah yang disebut sebagai alel ganda.Meskipun demikian, pada individu diploid, yaitu individu yang tiap kromosomnya terdiri atas sepasang kromosom homolog, betapa pun banyaknya alel yang ada pada suatu lokus, yang muncul hanyalah sepasang (dua buah) (Murniati,2010).
Pada tumbuhan, hewan dan manusia dikenal beberapa sifat keturunan yang ditentukan oleh suatu seri alel ganda.Golongan darah ABO yang ditemukan oleh Landsteiner pada tahun 1900 dan faktor Rh yang ditemukan oleh Landsteiner bersama Weiner pada tahun 1942 juga ditentukan alel ganda.Untuk golongan darah tipe ABO misalnya, dkanal alel ganda IAIB dan I, harus dipahami tentang pengertian tentang antigen, zat anti (antibodi) dan aglutinasi (Siti, 2011).
Mengetahui alel yang merupakan unit struktur utama yang pada akhirnya mampu menciptakan individu baru dari hasil persilangan merupakan hal yang penting.Dengan melakukan percobaan mengenai Alel Ganda, pemahaman tentang pewarisan sifat terutama mengenai alel ganda dalam penggolongan darah dapat dipahami.
I.2 Tujuan percobaan
            Adapun tujuan dari percobaan mengenai alel ganda yakni sebagai berikut.
1.      Menetapkan golongan darah masing-masing individu dalam populasi kelas.
2.      Memahami pola pewarisan alel ganda, khususnya golongan darah manusia.
3.      Menghitung frekuensi alel IA, IB, dan I dalam populasi kelas.
I.3 Waktu dan tempat percobaan
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 28 Maret 2013 pukul 14.30 – 17.30 WITA bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Bila seseorang mengatakan kata alel, yang terbayang dibenak kita adalah sepasang gen yang terdiri dari dua anggota yang masing-masing terletak pada lokus (tempat) yang sama dalam pasangan kromosom yang homolog (Siti, 2011). Sampai pembicaraan sejauh ini kita beranggapan bahwa suatu lokus dalam sebuah kromosom itu hanya ditempati oleh salah satu dari sepasang alel saja. Apabila sebuah lokus dalam sebuah kromosom ditempati oleh beberapa atau suatu seri alel maka alel-alel demikian disebut alel ganda (dalam bahasa inggris: “multiple alleles”). Peristiwanya dinamakan multiple allelmorfi (Suryo, 1984).
Belum banyak yang mengetahui bahwa dalam alel itu ada yang disebut sebagai alel ganda beserta contoh dan komponen-komponen yang terdapat didalamnya.Contoh sederhananya adalah darah yang memberikan peranan amat penting untuk kehidupan suatu organisme.Masyarakat luas sudah tidak asing lagi dengan kata golongan darah atau transfusi darah atau bahkan tak heran dengan berbagai variasi warna bulu pada kelinci. Namun pengetahuan mereka hanya sebatas itu tanpa mengetahui apa hubungannya dengan alel ganda yang terdapat pada gen. Alel ganda bukan hanya sebatas ada pada manusia melainkan pada hewan dan tumbuhan pun alel ganda itu ada. Tetapi ada perbedaan antara alel ganda pada manusia, hewan, dan tumbuhan (Siti, 2011).
Gen ganda adalah suatu seri gen yang menentukan pewarisan secara kuantitatif. Beberapa sifat pada manusia, hewan maupun tumbuhan seringkali ditentukan oleh adanya gen ganda. Misalnya,tinggi badan manusia, pigmentasi kulit,panjang tongkol jagung dan sebagainya (Anonim, 2012).
   Karena pada suatu organisme jumlah gen jauh lebih besar daripada jumlah kromosom, maka tiap kromosom harus mengandung banyak gen. tempat pada kromosom dimana terdapat suatu gen tertentu disebut lokus. Kedua alela yang mengontrol suatu sifat tertentu, terletak pada lokus yang sama pada masing-masing kromosom yang homolog. Untuk memperagakan kebenaran teori kromosom, kita harus mampu menghubungkan ada atau tidak adanya suatu sifat tertentu dengan ada atau tidaknya suatu kromosom tertentu didalam sel-sel organisme itu. Tetapi menurut teori kromosom, kedua alela yang mengontrol pemunculan suatu sifat tertentu itu, terletak di lokus yang sama pada dua kromosom yang homolog. Kromosom yang homolog, secara visual tidak dapat dibedakan satu sama lain. Dengan demikian dengan mengamati satu anggota dari pasangan itu tidaklah mungkin untuk menyatakan apakah kromosom tersebut mengandung alela tertentu atau tidak (Kimball, 1983).
Alel dapat menunjukkan derajat dominansi dan keresesifan yang berbeda-beda satu sama lain. Dalam persilangan ercis Mendel, keturunan F1 selalu terlihat seperti salah satu dari kedua varietas induk sebab salah satu alel dalam satu alel tersebut menunjukkan dominani sempurna terhadap alel yang satu lagi. Dalam situasi semacam itu, fenotip heterozigot dan homozigot dominan tidak dapat dibedakan (Campbell, dkk., 2010).
Variasi lain pada hubungan dominansi diantara alel-alel disebut kodominansi. Dalam variasi ini, kedua alel sama-sama mempengaruhi fenotip dengan cara terpisah dan dapat dibedakan. Misalnya golongan darah MN manusia ditentukan oleh alel-alel kodominan untuk dua molekul spesifik yang terletak pada permukaan sel darah merah, molekul M dan N. satu lokus tunggal, yang bisa mengandung dua variasi alel, menentukan fenotipe golongan darah ini. Pada orang yang homozigot untuk alel N (NN) memiliki sel darah merah yang hanya mengandung molekul N. akan tetapi molekul M maupun N terdapat pada sel-sel darah merah orang yang heterozigot untuk alel M dan N (MN). Perhatikan bahwa fenotipe MN bukan pertengahan antara fenotipe M dan N, yang membedakan kodominansi dan dominansi tak sempurna.fenotipe M maupun N sama-sama ditunjukkan oleh heterozigot, karena kedua molekul itu ada (Campbell, dkk., 2010).
Hanya ada dua alel untuk karakter-karakter ercis yang dipelajari oleh Mendel, namun sebagian besar gen terdapat dalam dua bentuk alel atau lebih. Golongan darah ABO pada manusia misalnya, ditentukan oleh tiga alel dalam satu gen tunggal IA, IB, dan i. golongan darah seseorang (fenotipe) mungkin salah satu dari empat tipe: A, AB, AB, atau O. huruf-huruf ini mengacu pada dua karbohidrat-A dan B- yang bisa ditemukan dipermukaan sel darah merah. Sel darah seseorang mungkin memiliki karbohidrat A (golongan darah A), karbohidrat B (golongan darah B), keduanya (golongan darah AB), atau tidak keduanya (golongan darah O) (Campbell, dkk., 2010).
Pada tahun 1900 K. Landsteiner menemukan lokus ABO pada manusia yang terdiri atas tiga buah alel, yaitu IA, IB, dan i. Dalam keadaan heterozigot IA dan IB bersifat kodominan, sedang i merupakan alel resesif  Golongan darah ABO diatur oleh dua gen (alel) isoaglutinogen yang berinteraksi satu sama lain. Golongan darah yang dapat diperiksa merupakan fenotipe, sedangkan dua alel yang mengaturnya adalah genotip.Antigen A dan B bersifat kodominan, artinya keberadaan kedua antigen tersebut sama-sama bersifat dominan terhadap tidak adanya antigen (O). Golongan darah A mungkin memiliki genotip AA atau AO. Demikian juga B, mungkin memiliki genotipe BB atau BO.Sedangkan O pasti memiliki genotipe OO dan AB memiliki genotipe AB (Anonim, 2012).
Telah diketahui bahwa golongan darah seseorang ditetapkan berdasarkan macamnya antigen dalam eritrosit yang dimilikinya.  Orang yang mampu membentuk antigen-A memiliki alel IA dalam kromosom, yang mampu membentuk antigen-B memiliki alel IB, yang memiliki alel IA dan IBdapat membentuk antigen-A dan antigen-B, sedangkan yang tidak mampu membentuk antigen sama sekali memiliki alel resesif I. interaksi antara alel-alel IA, IB dan I menyebabkan terjadinya 4 fenotip golongan darah A, B, AB, dan O (Suryo, 1984)
            Lokus ABO mengatur tipe glikolipid pada permukaan eritrosit dengan cara memberikan spesifikasi jenis enzim yang mengatalisis pembentukan polisakarida di dalam eritrosit tersebut. Glikolipid yang dihasilkan akan menjadi penentu karakteristik reaksi antigenik tehadap antibodi yang terdapat di dalam serum darah. Antibodi adalah zat penangkal terhadap berbagai zat asing (antigen) dan zat-zat yang tidak diinginkan lainnya yang masukkedalam tubuh (Anonim,2012).
            Dalam tubuh seseorang tidak mungkin terjadi reaksi antara antigen dan antibodi yang dimilikinya sendiri (Anonim, 2012).Karl Landsteener dalam penelitiannya menemukan adanya dua antibodi ialamiah disalam darah dan dua antigen pada permukaan eritrosit.Inilah penyebab terjadinya penggumpalan (aglutinasi) sel-sel darah merah (eritrosit) dari beberapa individu apabila dicampur dengan serum dari beberapa orang. Antigen dan antibody dalam golongan darah tersebut adalah (Agus dan Sjafaraenan, 2013)
Golongan darah
(fenotip)
Antigen dalam
Eritrosit
Antibodi dalam
Serum
A
A
Anti-B
B
B
Anti-A
AB
A dan B
-
O
-
Anti-A dan anti-B
:
Namun, pada transfusi darah kemungkinan terjadinya reaksi antigen-antibodi yang mengakibatkan terjadinya aglutinasi (penggumpalan) eritrosit tersebut sangat perlu untuk diperhatikan agar aglutinasi dapat dihindari.Golongan darah diturunkan dengan persilangan genetik Mendel. Peluang golongan darah anak dilihat dari golongan darah kedua orangtuanya dapat dilihat pada tabel berikut (Utomo, 2009)..
Golongan darah orang tua
Golongan darah anak
Ortu I
Ortu II
O
A
B
AB
O
O
+
-
-
-
O
A
+
+
-
-
O
B
+
-
+
-
O
AB
-
+
+
-
A
A
+
+
-
-
A
B
+
+
+
+
A
AB
-
+
+
+
B
B
+
-
+
-
B
AB
-
+
+
+
AB
AB
-
+
+
+



Dari tabel di atas terlihat bahwa orang tua AB tidak mungkin memiliki anak dengan golongan darah O.
Seperti halnya dengan golongan darah A, B, AB, dan O, maka fakor Rh mempunyai arti penting dalam klinik. Dalam keadaan normal, serum dan plasma darah orang tidak mengandung anti-Rh. Akan tetapi orang dapat distimulir (dipacu) untuk membentuk anti-Rh, yaitu dengan jalan transfusi darah.Sebelum melakukan transfusi darah alangkah baiknya kecuali memeriksa golongan ABO, juga memperhitungkan peranan faktor Rh (Suryo, 1984).
            Fenotipe golongan darah Rh diatur oleh tiga pasang gen, yang diberi kode C/c, D/d, dan E/e. Gen yang berperan adalah kode D/d. Hanya genotipe d/d yang memberikan fenotipe Rh negatif, sedangkan genotipe D/D dan D/d memberikan fenotipe Rh positif. Faktor Rh juga diturunkan lewat persilangan genetik Mendel.Dua orang tua dengan Rh positif heterozigot mungkin memiliki anak dengan Rh negatif.Sedangkan wanita Rh negatif dapat memiliki anak Rh positif dengan pria Rh positif homozigot (Siti, 2011).
Memang golongan darah ABO, baik itu Rh (+) maupun Rh (-), umumnya terdistribusi dengan golongan darah O paling dominan, diikuti golongan darah A, B, dan terakhir golongan darah AB paling tidak umum. Namun distribusi ini bervariasi jika ditinjau antarbangsa.Di kalangan orang Asia dan Afrika golongan arah Rh (-) sangat tidak umum (kurang dari 1%), sedangkan pada bangsa Basque (di Spanyol dan Prancis) populasi dengan Rh (-) mencapai 35%.Bangsa Eropa lain rata-rata memiliki populasi Rh (-) 15%. Di Turki dan Norwegia golongan darah A lebih banyak daripada O (Siti, 2011).
Setelah diketahui adanya inkompatibilitas mengenai faktor Rh yang dapat menimbulkan bahaya pada bayi, maka para ahli mulai menaruh perhatian dengan melakukan penyelidikan inkompabilitas dalam berbagai tipe golongan darah (Suryo, 1984).

















BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1 Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah lancet, autoclick, pipet, objek gelas dan pinset.
III.2 Bahan
            Bahan yang digunakan dalam percobaan ini berupa kapas beralkohol, darah masing-masing sebanyak dua tetes dan serum anti-A dan anti-B.
III.3 Prosedur kerja
            Prosedur kerja pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.      Membersihkan salah satu jari tangan yang akan diambil darahnya dengan kapas yang terlah diberi alkohol.
2.      Menusuk salah satu jari tangan dengan autoclick yang telah terisi jarum.
3.      Meneteskan darah sebanyak 2 tetes di atas objek gelas.
4.      Meneteskan serum anti-A di tetesan darah pertama dan serum anti-B di tetesan darah kedua.
5.      Mengaduk serum dan tetesan darah dengan pinset hingga tercampur.
6.      Mengamati perubahan apakah terjadi penggumpalan darah atau tidak.
7.      Mencatat hasil golongan darah di tabel data kelas.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
            Tabel golongan darah peserta laboratorium genetika biologi B.
 
No           
                                    Nama
      Anti-A
        Anti-B
Golongan darah
A
B
AB
O
1
Suci Alfiah
-
-



ü   
2
Nurrahma 
-
-



ü   
3
Ira Rabiah
-
-


ü   

4
Selviani
-
+

ü   


5
Nur Sakinah 
-
+

ü   


6
Rita Tosang
-
-



ü   
7
Purnama Sari
-
-



ü   
8
Sri Nur Rahmi Nur R.
+
-
ü   



9
Nurul Elviani Paweli
-
+

ü   


10
Risky Nurhikmayani
-
+

ü   


11
Jum Eka Rahayu
-
-



ü   
12
Reski Mandasari
-
-



ü   
13
Annisa Nurul Ilmi
-
+

ü   


14
Nurfaidah
-
+

ü   


15
Wa Ode Umrawati
-
-



ü   
16
Indo Ternri Ampa
-
+

ü   


17
Akbar Yuanda
+
-
ü   



18
Nursehang
+
+


ü   

19
Nurlina
-
+

ü   


20
A.Ida Widyasari
+
-
ü   



21
Suci Muslimah
-
-



ü   
22
Rusli
-
+

ü   


23
Sri Ervina A.
-
-



ü   
24
Lilis Dya Ningsih
-
-



ü   
25
Daud
+
-
ü   



26
Vini Prisilia Bombang
-
-



ü   
27
Susi Wijayanti
+
-
ü   



28
Ade Ayu S.
+
+


ü   

29
Lili Nurendah
-
-



ü   
30
Jumrawati
-
-



ü   
31
Nur Indah Hasanah H.
+
-
ü   



32
Andre
+
-
ü   



33
Sadli Sastrawan
-
+

ü   


34
Novi Lamban
-
+

ü   


35
Santi Sangaji
-
-



ü   
36
Asriani Sahrina
+
-
ü   



37
Mila Karmila
-
+

ü   


38
A.Iin Fadliah
-
+

ü   


39
Lukman S.
+
+


ü   

40
Fildzah A.
-
-



ü   
41
Rahmat Nugraha
-
+

ü   


42
Wahyuni
-
-



ü   
43
Firman Syahputra
+
-
ü   



44
A.Rismayani
-
+

ü   


45
Nindi Ekawati
+
-
ü   



46
Rosiyantuti
+
-
ü   



47
Ahmad Soleh
-
+

ü   


Jumlah
11
16
4
16

IV.2 Analisis Data
Frekuensi alel IA, IB, i berdasarkan rumus Hardy-Weinberg : 
           (p+q+r)2 = 1
           (P2+2pq+q2+2qr+2pr+r2)=1
Diketahui orang yang bergolongan darah O = 16
                orang  yang bergolongan darah A = 11
                orang  yang bergolongan darah B = 16
                orang yang bergolongan darah AB = 4
ditanyakan a. Frekuensi alel IA, IB, i
                   b. persentasi genotipe darah
a. frekuensi alel IA, IB, i
1. frekuensi alel i
    r2 = frekuensi golongan darah O
    r2 = 16/47
    r2 = 0,34
    r   = √0,34
    r  = 0,58
Jadi frekuensi alel i adalah 0,58
2.    frekuensi alel IA
(p+r)2 = frekuensi golongan darah A + frekuensi golongan darah B
     (p + r)2 = 11+16/47
     (p + r)2 = 0,57
     (p + r)   = √0,57
     (p + r)    = 0,75
            p    = 0,75 – 0,58
            p    = 0,17
Jadi frekuensi alel IA adalah 0,17
3.    frekuensi alel IB  
p + q + r = 1
               q  = 1 – (p + r)
                q  = 1  ̶  (0,17 + 0,58)
                q = 1 ̶  0,75
                q = 0,25
Jadi frekuensi alel IB adalah 0,25,.
Frekuensi genotipe darah
1.    untuk alel IA = p2
              = (0,17)2
                        = 0,0289
2.    untuk alel IB = q2
             = (0,25)2
                 = 0,0625  b
B. Persentasi genotipe darah
            Berdasarkan hukum Hardy-waeinberg :
P2IAIA + 2prIAi + q2IBIB + 2qrIBi + 2pqIAIB + r2ii
Frekuensi golongan darah :
1.    golongan darah A homozigot (P2IAIA) =  0,0289 x 47 = 2 orang
2.    golongan darah A heterozigot (2prIAi) = 2 x 0,17 x 0,54 x 47 = 9 orang
3.    golongan darah B homozigot (q2IBIB)  = 0,0625 x 47  = 4 orang
4.    golongan darah heterozigot (2qrIBi)     = 2 x 0,25 x 0,54 x 47 = 12 orang
5.    golongan darah AB (2pqIAIB)               = 2 x 0,17 x 0,25 x 47 = 4 orang
6.    golongan darah O (r2ii)                         = 0,34 x 47 =16 orang
jadi persentasi golongan darah A, B, AB, dan O adalah :
1.     persentasi golongan darah A  homozigot = 2/47 x 100% = 4,5%
2.     Persentasi golongan darah A heterozigot = 9/47 x 100% = 19 %
3.    Persentasi golongan darah B homozigot   = 4/47 x 100% = 8,5%
4.    Persentasi golongan darah \B heterozigot  = 12/47 x100% = 25,5%
5.    Persentasi golongan darah AB                 = 4/47 x 100% = 8,5 %
6.    Persentasi golongan darah O                   = 16/47 x 100% = 34%                       
IV.3 Pembahasan
            Percobaan kali ini bertujuan untuk mengetahui genotip dan fenotip darah setiap praktikan. Golongan darah seseorang ditentukan berdasarkan adanya antigen yang terdapat dalam tiap tipe darah. Pada percobaan kali ini akan diteliti mengenai penggolongan darah sistem ABO. Jumlah praktikan yang akan diambil sampel darahnya adalah 47 praktikan. Setelah di tes golongan darah dengan bantuan serum anti-A, serum anti-B, lancet serta autoclick maka didapatkan bahwa golongan darah O sebanyak 16 orang, darah A sebanyak 11 orang, darah B sebanyak 16 orang dan darah AB hanya 4 orang saja.
            Darah AB yang paling sedikit ditemui dan darah O dan B yang banyak ditemui pada pengambilan sampel darah kali ini. Percobaan ini bertujuan untuk menghitung frekuensi masing – masing alel dan persentase genotip darah. Untuk menghitung frekuensi dan persentase, digunakan rumus Hardy-Wenberg. Didapatkan hasil yaitu alel IA = 0,17, alel IB = 0,25 dan i = 0,58. Sedangkan pada perhitungan persentase didapatkan hasil yaitu Jadi, persentase genotip darah untuk alel i  = 34,042% , alel IA = 23,40%, alel IB = 34,042%,dan alel IAIB = 8,513%.
Di setiap negara, golongan darah seseorang yang paling paling banyak ditemui tidak selalu sama jumlahnya tergantung etnis yang mendominasi. Namun secara umum, di seluruh dunia darah golongan O+ paling banyak ditemukan sementara golongan AB- paling jarang di temui diseluruh dunia di populasi manapun.
            Berdasarkan faktor rhesusnya, golongan darah yang memiliki rhesus positif lebih banyak dibandingkan rhesus negatif, dengan perbandingan 85 persen dan 15 persen. Artinya golongan A+, B+, AB+ dan O+ secara umum lebih mudah ditemukan dibandingkan golongan darah dengan rhesus negatifnya..
Sementara dari semua jenis golongan darah yang dikenal, golongan darah O rhesus positif atau O+ adalah golongan darah paling banyak ditemukan yakni mencapai 35-40 persen dari populasi dunia. Golongan AB rhesus negatif atau AB- paling jarang ditemukan, hanya sekitar 0,45 persen dari populasi.
            Tidak diketahui pasti apa sebabnya, namun masing-masing golongan darah memiliki dominasi sendiri di wilayah tertentu. AB adalah golongan darah yang paling jarang dimiliki di seluruh dunia, namun paling banyak ditemukan di Jepang, Korea dan beberapa wilayah di China. Di beberapa tempat tersebut, perbandingan jumlahnya tak lebih dari 10 persen dari populasi. Mungkin saja golongan darah O banyak ditemukan karena adanya kodominansi pada golongan darah.
 Pada darah, setiap fenotip memiliki alel ganda didalamnya. Misalnya saja pada golongan darah A yang memiliki dua kemungkinan alel yaitu IAIA dan IAi dan golongan darah B juga memiliki dua kemungkinan alel yaitu yaitu IBIB dan IBi. Golongan darah O memiliki genotip ii. Sehingga pada saat terjadi randomisasi (perkawinan acak) pada suatu populasi, golongan darah O lah yang paling banyak karena pada empat golongan darah yang ada yaitu A,B,AB,O, mengandung alel I kecuali pada golongan darah AB yang mengandung alel IAIB dan sangat jarang ditemui karena pada saat terjadi randomisasi, banyak terjadi kodominansi sehingga pewarisan alel IAIB ini sangat jarang ditemui.
Hal ini bisa kita lihat pada saat praktikum alel ganda ini. Praktikan dengan golongan darah O memiliki jumlah terbanyak yaitu 16 dan yang paling sedikit adalah golongan darah AB. Perkawinan antara seseorang bergolongan darah O dengan golongan darah A atau B tidak mungkin menghasilkan anak dengan golongan darah AB. Anak dengan golongan darah AB hanya bisa dihasilkan dari pernikahan orang tua yang memiliki golongan darah A dan B. Itulah yang menjadi alasan mengapa orang yang bergolongan darah AB sangat jarang ditemui.


BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
            Kesimpulan dari percobaan mengenai alel ganda adalah sebagai berikut.
1. Ternyata golongan darah dalam populasi kelas Biologi B yaitu golongan darah A adalah 11 orang, bergolongan darah B 16 orang, bergolongan darah AB 4 orang, dan yang bergolongan darah B berjumlah 16 orang.
2. Golongan darah pada manusia ditentukan oleh alel ganda dimana gen yang menentukan golongan darah disebut gen I (isoaglutinin), sedangkan alel-alelnya ialah i, IA, dan IB. Alel i adalah resesif. Sedangkan alel IA dan IB merupakan alel kodominan, sehingga IA tidak dominan terhadap IB, begitupun sebaliknya IB tidak dominan terhadap IA dan alel IA dan IB tidak ada yang resesif maupun dominan sehingga membentuk golongan darah AB.
3. Pada kelas Biologi B didapatkan hasil frekuensi alel yaitu alel IA = 0,174, alel IB = 0,243 dan i = 0,583.
V.2 Saran
            Sebaiknya serum dan pinset disediakan dalam jumlah yang banyak agar praktikum cepat selesai.


DAFTAR PUSTAKA

Agus, Rosana dan Sjafraenan, 2013. Penuntun Praktikum Genetika Dasar. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Anonim, 2012. Alel Kodominan Pada Golongan Darah. http://biocyber.blogspot.com. Diakses pada tanggal 29 Maret 2013 pukul 11.00 WITA.

Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G., 2010. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Erlangga. Jakarta.
Kimball, J.W., Tjitrosomo, S.S., Sugiri, N., 1983.Biologi Jilid 1 Edisi Kelima.Erlangga. Jakarta.

Murniati, Anggraini, 2010. Penuntun praktikum alel ganda laboratorium genetika. http://biologiUNRI.ac.id. Diakses pada tanggal 29 Maret 2013 pukul 11.35 WITA.

Suryo, H. 1984.Genetika Manusia. Gadja Mada University Press. Yogyakarta.
Siti, Annisa, 2011. Faktor penentu penggolongan darah. http://Sitianiezha.blogspot.com. Diakses pada tanggal 29 Maret 2013 pukul 11.20 WITA.

Utomo, Salim. 2009.Penentuan penggolongan darah pada manusia. http://biologizone.blogspot.com. Diakses pada tanggal 29 Maret 2013 pukul 17.50 WITA.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar