welcome to my official blog

dream as you life forever. life likes you will die tomorrow. be the best . I do believe in fairy ! I do ! I do !

Senin, 20 Mei 2013

laporan praktikum genetika perbandingan imitasi genetis



BAB 1
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Bila makhluk hidup berkembang biak secara aseksual, keturunannya berkembang menjadi salinan tepat dari induknya selama mereka dibesarkan dalam keadaan yang sama. Sebaliknya, apabila berkembang biak secara seksual, maka keturunannya mengembangkan ciri–ciri yang saling berbeda dan berlainan pula dari salah satu tetuanya.
Jauh sebelum para biologiawan menemukan banyak fakta tentang meiosis dan mitosis, mereka mencoba menemukan aturan–aturan (kaidah) yang dapat menerangkan bagaimana ciri–ciri teramati pada keturunan itu berkaitan dengan yang dimiliki induknya dan bahkan orang tua dari induknya (Kimball, 1983).Dalam ilmu genetika, kemungkinan ikut mengambil peranan penting. Misalnya, soal pemindahan gen–gen dari orang tua/induk ke gamet–gamet, jenis spermatozoa yang membuahi sel telur, berkumpulnya kembali gen – gen di dalam zigot sehingga terjadi berbagai kombinasi .
Dari beberapa teori yang telah diformulasikan untuk menerangkan bagaimana sifat–sifat diwariskan, maka dua hal perlu mendapat perhatian khusus.Salah satu diantaranya, teori Gregor Johann Mendel, seorang biarawan asal Austria memberikan dasar–dasar yang menjadi landasan karya–karya dalam bidang genetika. Yang lain, teori mengenai pewarisan sifat–sifat perolehan, walau gagal lulus berbagai uji ilmiah, tetapi berlanjut dan dipertahankan para ahlinya.
Atas jasa Mendel yang mencetuskan hukum Mendel I dan Mendel II, maka ilmu pengetahuan mengenai genetika lebih dapat dikaji pada masa itu dan teori Mendel masih terus dikaji hingga zaman sekarang.Untuk mengetahui azas – azas yang diperoleh Mendel, maka dilakukanlah percobaan ini.
I.2  Tujuan percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang kemungkinan gen–gen yang dibawa oleh gamet-gamet tertentu dan akan bertemu secara acak.
I.3  Waktu dan tempat percobaan
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 7 Maret 2013 pukul 14.30 - 17.30 WITA bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin Makassar.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Teori hanya menyatakan bahwa sifat–sifat yang diperoleh induk selama masa hidupnya dapat diturunkan kepada keturunannya.Teori ini biasanya digabungkan dengan Lamarck, seorang biologiawan Prancis, yang menggunakan teori tersebut dalam upaya menerangkan banyak penyesuaian mencolok pada alam sekitarnya yang diperlihatkan tumbuhan dan hewan.Ilustrasinya yang paling terkenal ialah jerapah.Ia memastikan bahwa leher panjang jerapah berkembang perlahan–lahan sebagai akibat generasi–generasi jerapah mengulurkan lehernya untuk mencari–cari dedaunan pohon. Setiap generasi menurunkan kepada keturunannya penambahan sedikit pada lehernya yang disebabkan terus–terusan mengulur itu 
            Seperti yang kita ketahui bahwa ada sifat-sifat yang diwariskan oleh induk kepada keturunanya.Sifat–sifat tersebut bisa saja berupa sifat dominan ataupun resesif. Ada faktor–faktor yang menyebabkan terjadinya variasi dalam setiap generasi sehingga tidak ada satu organisme pun yang sama. Sifat tersebut diturunkan dari hasil persilangan antara organisme jantan dan betina yang melalui pembelahan meiosis sehingga terjadilah variasi genetik faktor pewarisan sifat 
Teori kita mengenai sifat turun temurun pertama kali dikerjakan oleh pendeta Austria yang bernama Gregor Johann Mendel.Meskipun banyak pewarisan sifat yang memunculkan banyak pemikiran selama ribuan tahun, tapi Mendel yang pertama kali mempublikasikan ilmu yang menjadi fondasi genetika saat ini sekitar 140 tahun lalu (Baharuddin, 2009).Dari tahun 1858 sampai 1866, Mendel bekerja di kebun gereja di kota Brunn, bertanam ercis (Pisum sativum) dan memeriksa keturunan – keturunannya 
Keputusan Mendel untuk bekerja dengan kacang ercis biasa merupakan pilihan yang sangat tepat.Tanaman itu tersedia dalam banyak varietas mulai dari segi warna bunga, ukuran dan bentuk kacangnya.Sebagaimana pada banyak tanaman polong, daun bunganya seluruhnya menutupi organ–organ seksnya.Benang sari menghasilkan serbuk sari (yang membawa gamet–gamet jantan dan putik) menghasilkan gamet betina, yaitu telur.Walau kadang–kadang serangga dapat masuk kedalam organ–organ seks, namun biasanya terjadi penyerbukan sendiri.Mendel dapat membuka kuncup–kuncupnya dan membuang benang sari sebelum menjadi masak. Kemudian dengan menyapu-nyapukan serbuk sari dari tanaman lain pada putik, maka dapat berlangsung penyerbukan silang
Pilihannya atas ercis ternyata tepat benar juga karena terdapat banyak varietas yang berlainan secara nyata.Beberapa menghasilkan biji keriput da nada juga yang menghasilkan biji yang bernas.Beberapa lagi bijinya ada yang membentuk kotiledon hijau dan ada yang membentuk kotiledon kuning.Dalam salah satu percobaannya, Mendel menyilangkan varietas biji bulat dengan varietas biji keriput.Generasi parental ini disebut generasi P. serbuk sari dan benang sari varietas biji bulat diserbuki pada putik varietas biji keriput. Silang berlawanan dilakukan: serbuk dari benang sari varietas biji keriput dioleskan pada putik varietas biji bulat. Dalam kedua kasus inii setiap biji yang dihasilkan oleh bunga – bunga yang diserbuk silang ini bulat – bulat.Mendel menamakan generasi kedua itu generasi hibrid karena terjadi oleh tumbuhan induk yang berlainan.Juga disebut F1
Mendel mempelajari beberapa pasang sifat pada tanaman kapri. Masing-masing sifat yang dipelajari adalah: tinggi tanaman, warna bunga, bentuk biji, dan lain-lain yang bersifat dominan dan resesif. Mula-mula Mendel mengamati dan menganalisis data untuk setiap sifat, dikenal dengan istilah monohibrid.Selain itu Mendel juga mengamati data kombinasi antar sifat, dua sifat (dihibrid), tiga sifat (trihibrid) dan banyak sifat (polihibrid).Hasil percobaannya ditulis dalam makalah yang berjudul Experiment in Plant Hybridization
Munculnya kembali ercis keriput pada F2 hanyalah berarti bahwa setidaknya beberapa dari tumbuhan F1, juga mengandung suatu faktor bagi keadaan biji keriput.Akan tetapi, pada generasi F1 keberadaan faktor tersebut tidak jelas.Ciri – ciri yang diteruskan tanpa perubahan kepada generasi F1 (misalnya biji bulatdisebut dominan oleh Mendel.Ciri – ciri yang tersembunyi didalam F1, tetapi muncul kembali pada F2 (misalnya biji keriput), disebut resesif
Dalam percobaannya, Mendel juga mengemukakan tentang heterozigot dan homozigot. Heterozigot merupakan faktor yang mengandung dua gen berbeda sedangkan homozigot mengandung dua gen yang identik (Anonim, 2011).Ada juga istilah mengenai genotip dan fenotip. Genotip adalah faktor yang tidak tampak secara fisik dalam pewarisan sifat yang biasanya dijelaskan dengan simbol (misalnya Rr, DD, mm) sedangkan fenotip merupakan sifat nampak secara fisik yang menampakan sifat yang telah diwarisi dari orang tua/induk ke keturunannya.
Dalam percobaan Mendel, dikenal beberapa macam perkawinan yaitu perkawinan respirok, back cross, dan test cross.Perkawinan respirok merupakan perkawinan kebalikan dari yang semula dilakukan. Perkawinan ini bertujuan untuk membuktikan bahwa induk jantan dan betina memiliki kesempatan yang sama dalam mewarisi sifat. Perkawinan balik (back cross) merupakan perkawinan antara individu F1 dengan salah satu induknya yang berguna untuk mencari genotip induknya.Uji silang (test cross) merupakan perkawinan antara individu F1 dengan salah satu induknya yang bersifat homozigot resesif yang bertujuan untuk mengetahui apakah individu itu bersifat homozigot atau heterozigot.Apabila hasilnya menunjukkan beberapa fenotip keturunan maka individu yang diuji adalah heterozigot
Dalam percobaannya, Mendel melakukan persilangan monohibrid.Mendel melakukan persilangan tanaman ercis berbiji bulat dengan tanaman ercis berbiji keriput.Semua keturunan F1-nya berupa tanaman ercis berbiji bulat.Selanjutnya, F1 disilangkan dengan sesamanya dan menghasilkan keturunan F2. Perbandingan fenotip F2 = 3 berbiji bulat : 1 berbiji keriput. Berdasarkan percobaan tersebut, Mendel menyimpulkan bahwa pada pembentukan gamet, pasangan–pasangan gen sealel saling berpisah. Pemisahan gen ini terjadi selama proses meiosis berlangsung. Jadi, dalam setiap gamet terdapat 1 set kromosom. Kesimpulan tersebut dikenal sebagai hukum I Mendel atau yang dikenal dengan Hukum Segregasi.Pada percobaan berikutnya, Mendel melakukan persilangan dihibrid.Mendel menggunakan dua sifat berbeda dari tanaman ercis yaitu bentuk dan warna biji.Mendel menyilangkan tanaman ercis berbiji bulat–kuning dengan tanaman ercis berbiji keriput–hijau.Semua keturunan F1-nya berbiji bulat kuning.setelah F1 disilangkan dengan sesamanya, diperoleh perbandingan fenotip F2-nya 9:3:3:1. Berdasarkan hasil dari percobaan tersebut, Mendel mengambil kesimpulan bahwa setiap gen dapat berpasangan secara bebas dengan gen lain. Kesimpulan tersebut dikenal dengan hukum II Mendel atau yang lebih dikenal dengan hukum segregasi.Hukum segregasi ini berlaku untuk gen yang letaknya berjauhan dan tidak berlaku jika kedua gen terletak berdekatan
Terkadang, teori dan fakta di lapangan berbeda.Ketika percobaan telah dilakukan, hasilnya menyimpang dari teori yang sudah ada. Akhirnya, timbullah keraguan akan percobaan yang telah dilakukan di laboratorium atau lapangan. Maka, untuk menjawab keraguan tersebut kita  perlu melakukan suatu pengujian dengan melihat besarnya  penyimpangan  nilai pengamatan terhadap nilai harapan. Selanjutnya besarnya penyimpangan tersebut dibandingkan terhadap kriteria model tertentu. Dalam percobaan persilangan akan dibandingkan frekuensi genotipe yang diamati terhadap frekuensi harapannya dan untuk mengamati kemungkinan tipe-tipe persilangan, maka digunakan teori kemungkinan
Teori kemungkinan merupakan dasar untuk menentukan nisbah yang diharapkan dari tipe-tipe persilangan genotip yang berbeda.Pengunaan teori ini memungkinkan kita untuk menduga kemungkinan diperolehnya suatu hasil tertentu dari persilangan tersebut
          Seringkali kita ragu–ragu apakah data hasil percobaan yang kita lakukan dapat dipercaya akan kebenarannya. Lebih–lebih jika diingat bahwa pada percobaan biologis itu tidak mungkin didapatkan data yang segera dipertanggungjawabkan seperti halnya dengan matematika.Berhubung dengan itu adanya penyimpangan (deviasi) antara hasil yang didapat dengan hasil yang diharapkan secara teoritis harus dievaluasi. Suatu cara untuk mengadakan evaluasi itu adalah melakukan tes X2 (bahasa inggrisnya: chi-square test). Sebenarnya itu bukan huruf X, melainkan huruf yunani “phi” (Ӽ). Untuk mudahnya, huruf yunani tersebut kita anggap sebagai huruf X. Rumus yang digunakan ialah (Suryo, 1984):
Ӽ2
Keterangan :
X2  =  Chi kuadrat
d = Deviasi/penyimpangan, ialah selisih antara hasil yang diperoleh dan hasil   yang diramal.
e=  Hasil yang diramal/nilai harapan
∑ =  Sigma (jumlah keseluruhan)
          Dalam perhitungan nanti harus diperhatikan pula besarnya derajat kebebasan, yang nilainya sama dengan jumlah kelas fenotip dikurangi dengan satu. Jadi, andaikan perkawinan monohibrid menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotip 3:1 (ada dominansi penuh), berarti ada dua kelas fenotip, sehingga derajat kebebasannya = 2-1 = 1. Jika terdapat sifat intermedier, keturunannya memperlihatkan perbandingan 1:2:1. Berarti disini ada 3 kelas fenotip, sehingga derajat kebebasannya 3-1=2. Pada perkawinan dihibrid didapatkan keturunan dengan perbandingan 9:3:3:1 berarti ada 4 kelas fenotip, sehingga derajat kebebasannya 4-1=3 (Suryo, 1984).
Contohnya jika suatu tanaman berbatang tinggi  heterozigotik (Tt) menyerbuk sendiri dan menghasilkan keturunan yang misalnya terdiri dari 40 tanaman berbatang pendek. Apakah hasil tersebut dapat dipercaya akan kebenarannya, artinya apakah sesuai dengan hukum Mendel (Suryo, 1984).
Jawabannya: Menurut Mendel, suatu, monohibrid (Tt) yang meneyerbuk sendiri seharusnya menghasilkan keturunan dengan poerbandingan fenotip 3 tinggi : 1 pendek. Jadi secara teoritis seharusnya didapatkan 45 tanaman berbatang tinngi dan 15 tanaman berbatang pendek (Suryo, 1984).
                                    Tinggi                          Pendek                                    Jumlah
Diperoleh (o)                 40                                 20                                60
Diramal    (e)                 45                                 15                                60
Deviasi    (d)                 -5                                  +5                            
                               0,555                            1,666
= 0,555 + 1,666 = 2,221
Selanjutnya kita menggunakan tabel X2.dalam tabel itu deretan angka paling atas mendatar merupakan nilai kemungkinan. Kolom sebelah kiri tegak lurus memuat angka-angka yang menunjukkan besarnya derajat kebebasan (dk).Angka-angka lainnya adalah nilai X2(Suryo, 1984).
Menurut para ahli statistik, apabila nilai X2 yang didapat dibawah kolom nilai kemungkinan 0,05, itu berarti bahwa data yang diperoleh dari percobaan itu buruk. Ini disebabkan karena penyimpangan sangat berarti danada faktor lain diluar faktorkemungkinan berperan disitu.jadi data hasil percobaan dapat dianggap baik apabila nilai X2 yang didapat berada didalam kolom nilai kemungkinan 0,05 atau dikolom sebelah kirinya (Suryo, 1984).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar