welcome to my official blog

dream as you life forever. life likes you will die tomorrow. be the best . I do believe in fairy ! I do ! I do !

Jumat, 04 Januari 2013

naskah drama "SARUNGELA DAN OM PERI" by XI OLIMPIADE 2011

SARUNGELA

Tokoh:
1. Sarungela (Annisa Nurul Ilmi)
2. Om Peri/Bapak Rian (Muh. Riansyah)
3. Mama Sosa (Kiki Iqrayanti)
4. Sarah/kakak I (Desty Tryaswati)
5. Sonia/kakak II (Arni Aries)
6. Ibu Tendri (Nur Fadhilah)

Diceritakan, hiduplah sebuah keluarga miskin yang terdiri dari seorang ibu dan kedua putrinya yang bernama Sarah dan Sonia serta seorang anak angkat yang bernama Sarungela. Sarungela diangkat delapan tahun yang lalu dari sebuah panti asuhan, yang konon katanya ketika Sarungela masih bayi ditemukan di depan gerbang panti asuhan dalam keadaan terbungkus sehelai sarung. Sehingga dalam hidupnya kini, Sarungela selalu memakai sarung pemberian orang tua kandungnya itu. Di rumah barunya sekarang, Sarungela hampir tidak dianggap sebagai anak, melainkan ia dipekerjakan seperti seorang pembantu. Mama dan kedua kakak angkatnya selalu menyuruh Sarungela mengerjakan pekerjaan rumah tanpa belas kasihan.

Adegan I
Sarah : (Menunjuk-nunjuk majalah yang dipegang. “Son, lihat pi!”
Sonia : (Marah) “Apakah? Sa lagi belajar ini.”
Sarah : (Masih menunjuk-nunjuk majalah) “Lihat pi! Ganteng.”
Sonia : “Mana? Mana?” (Tersenyum) “Ih, gantengnya. Kita beli sebentar posternya.”
Sarah : “Iyo, nah.”
Mama : “Anak-anakku, kalian lagi bikin apakah ini?
Sonia : “Sa belajar mama.”
Mama : (Melihat lantai) “Ih, kenapa masih kotor ini lantai? Belum disapukah?”
Sonia : “Tidak tahu Sarungela, ma.”
Mama : (Berteriak) “Sarungela, o… Sarungela! Sapu itu lantai! Kotornya.”
Sarungela : (Datang tergesa-gesa) “Ih, masih bersih ji, ma. Sa baru sapu tadi.”
Mama : (Marah) ”Beh, ko tidak lihatkah ini kotoran, debu. Di mana ko taruh itu mata?”
Sarungela : “Iya, ma.” (Pergi mengambil sapu).
Mama : “Anak-anak, mama pergi dulu, nah. Mama mo pergi ke salon.”
Sarah & Sonia : “Iya, ma. Dah!”
Sonia : “Kue nah, ma!” (Berteriak sambil menggaruk kepala) “Sarungela!”
Sarungela : (Mengeluh dengan suara kecil) “Huh, kenapakah sa terus, beh?” (Berteriak) “Sa masih menyapu ini kasihan.”
Sonia : (Berteriak) “Sisirkan dulu rambutku! Gatal. Sa tidak bisa konsentrasi belajar.” (Menggaruk-garuk kepala).
Sarungela : (Berbisik) “Hu, begitu mi kalau tidak pernah keramas. Lima ratus rupiah ji sampo sebungkus.”
Sonia : (Berteriak) “Apa?”
Sarungela : (Berbisik) “Alamak! Keceplosan!” (Memegang mulut) “Hampir mi. Tunggu! Selesai pi sa menyapu.”

Sarah : (Berteriak) “Sarungela!”
Sarungela : “Kenapakah lagi saya? Belum selesai satu datang lagi satu.”
Sarah : “Sudah-sudah mi itu. Kau ribut sekali.” (Sambil membaca majalah).

Adegan II
Keesokan harinya, pagi-pagi buta sekitar pukul lima dini hari, mama dan kedua kakak angkat Sarungela masih tertidur nyenyak. Namun, Sarungela sudah bangun membersihkan rumah, mencuci baju, mengangkat air, potong rumput, memasak dan lain-lain. Karena kecapaian, dia tertidur di atas kursi tamu. Tidak lama kemudian, Sarah dan Sonia bangun lalu menuju ruang tamu.
Sonia : (Menguap dan berjalan dengan mata tertutup) “Hoam, capai. Sa mimpi apa semalam?” (Sambil memegang lehernya).
Sarah : (Mengikuti Sonia dengan mata tertutup) “Ko gilakah? Ngerimu, Son. Tidur capai. Tidak ada juga ko kerja di rumah.”
Sonia : “Ih, ko pelan saja. Kau juga tidak ada ko kerja.” (Sambil berbalik ke arah Sarah).
Sarah : “Ya iyalah, kita kan punya pembantu.” (Tertawa).
Sonia : “Ha, benar juga.” (Sudah tiba di ruang tamu).
Masih dalam keadaan mengantuk, Sonia dan Sarah lalu duduk di atas kursi. Ternyata di kursi itu terdapat Sarungela yang tengah tertidur.
Sarah : (Memeluk dirinya) “Dingin, beh.” (Sambil merekatkan kembali sarung di badannya).
Sonia : ”Iya. Tapi toh, ko tidak rasa anehkah ini kursi?”
Sarah : “Iya, aneh. Da empuk. Sejak kapan ini kursi kayu pake busa?“
Sonia : “Oh, kursi baru mungkin.”
Tiba-tiba Sarungela mengubah posisi tidurnya yang membuat Sarah dan Sonia terjatuh.
Sarah & Sonia : “Aduh, sakitnya!” (Berdiri sambil mengelus-elus lututnya).
Sarah : “Eh, lihat pi!” (Menunjuk ke arah Sarungela) “Sarungela pale yang kita duduki
tadi. Pantasan!”
Sonia : “Ih, ngerinya Sarungela. Sarungela, bangun! (Memukul-mukul Sarungela). Ma, Sarungela da tidur di kursi tamu, tidak ada malunya.”
Mama datang.
Mama : “Hu, ada apakah? Masih pagi he ini kasihan, baru kalian sudah bikin ribut.”
Sonia : “Ini he, ma. Sarungela da tidur di sini.”
Sarah : “Iya, ma. Susah sekali dikasih bangun . Baru da kasih jatuh lagi kita.”
Mama : “Sarungela, bangun!” (Berteriak di dekat telinga Sarungela).
Sarungela pun terbangun.
Sarungela : (Terbangun kaget) “Ha? Kenapa, Ma?” (Bingung).
Mama : “Kenapa ko tidur di sini?” (Menatap Sarungela tajam).

Sarungela : “Saya kecapaian, ma.” (Tertunduk).
Sarah :”Ah, alasan mati.”
Sonia : “Iya. Padahal sudah dikasih kamar tidur.”
Mama : “Sudah-sudah! Lain kali Sarungela, kalau ko tidur lagi di ruang tamu, sa bakar sarungmu!” (Sambil meninggalkan ruang tamu).
Sarah & Sonia : (Berbisik) “Tobat ko!” (Mengikuti Mama).

Adegan III
Di tengah kesunyian kamar tidurnya, Sarungela memakai sarung yang merupakan peninggalan orang tuanya dan mulai meratapi kehidupannya.
Sarungela : (Duduk bersila di atas tempat tidur) “Apa arti hidupku ini? Kalau selamanya sa cuma kerja, kerja dan kerja. Sudah delapan tahun mi mereka adopsi saya, tapi hidupku masih begini-begini terus. Sama ji TKI. Lama-lama jadi madesu (masa depan suram). Kalau sa pikir-pikir, sebenarnya sa hanya dijadikan alat buat mereka. Ih, sa ingin doti-doti mereka biar mereka rasa dulu.”
Mama : “Sarungela, o… Sarungela!” (Mengetuk kamar Sarungela).
Sarungela : “Kenapa, ma?”
Mama : (Setengah berteriak) “ Apakah ko bikin di kamar? Ko menyepikah. Nanti ko kesurupan, saya lagi yang repot.”
Sarungela : “Tidak bikin apa-apa ji.” (Sambil keluar dari kamar).
Mama : “Ko pergi dulu utangkan saya pulsa di penjual sebelah rumah! Sa mau buka ini facebookku, sudah tiga hari mi sa tidak ngaptus.”
Sarungela : “Apa itu ngaptus, mama?”
Mama : “Hu, kampunganmu. Ngaptus itu update status kasihan. Eh, sudah mi, jangan mi banyak tanya! Ko pergi mi cepat utangkan saya pulsa. Setelah itu, ko menyapu, mengepel, bersihkan kamar mandi, lap kaca, masak dan yang paling penting ko pijit-pijitkan belakangku. Sa pegal-pegal. Ingat ko itu!” (Sambil berlalu).
Sarungela : “Ya ampun, itu menyuruh atau mo bunuh saya pelan-pelan?”
Mama : “Apa?”
Sarungela : “Ha? Tidak. Saya bilang, mama tambah cantik.”
Mama : “O, jelas. Nyata ini mamamu cantik. Ko tahu ji toh, mantan peragawati tingkat RT.” (Terseyum sambil memegang rambutnya, lalu pergi).
Sarungela : (Berbisik) “Uh, untung da tuli. Makanya, itu telinga dikorek-korek. Hah, kapan mau tenang hidupku ini?” (Sambil masuk kembali dalam kamarnya).

Adegan IV
Tiba-tiba, muncullah Om Peri disertai asap mengepul.
Sarungela : (Kaget, takut dan mundur beberapa langkah) “Siapa itu?”
Om Peri : (Tertawa) “Perkenalkan, saya Om Peri.” (Tersenyum).
Sarungela : “Apaan? Yang ada juga Ibu Peri.” (Heran).

Om Peri : (Tertawa) “Tahun 2011 mi he ini. Ibu Peri sudah tidak diproduksi mi lagi.”
Sarungela : “O, jadi mau apa mi katanya?”
Om Peri : (Cemberut) “Beh, masa begitu sambutannya? Katanya ada keluhanmu tadi.
Diriku selalu datang disetiap ada keluhanmu.”
Sarungela : “Sa merasa dizalimi oleh keluarga angkatku. Mereka anggap saya seperti pembantu.”
Om Peri : (Tertawa) “Selamat nah!”
Sarungela : (Cemberut) “Bisanya begitu? Sa kira peri da bantu orang?”
Om Peri : (Tertawa) “Sa main-main ji. Kau deh sensi sekali. Nanti sa bantu. Ko mo
suruh apakah saya?”
Sarungela : “Bantu saya menyapu, mengepel, bersihkan kamar mandi, lap kaca dan memasak.” (Sambil menghitung dengan jari).
Om Peri : “O, itu perkara mudah.” (Baca mantra) “~!@#$%^&*()_+:<>?`-={};’/[]|\.”
Sarungela : “Apaan?”
Om Peri : “Mantra itu. Selesai mi semua pekerjaanmu. Sa jamin. Sa pergi dulu nah, masih banyak keluhan dari anak-anak seperti kamu.”
Sarungela : “Terima kasih, Om Peri.”

Adegan V
Om Peri pun hilang. Kemudian, Sarungela keluar kamar untuk mengutang pulsa. Di ruang tamu kedua kakak angkatnya sedang duduk asyik mambaca majalah dan koran. Tiba-tiba, Sarungela lewat dengan wajah berseri-seri.
Sonia : “Sarungela, sudah selesai mi?”
Sarungela : “Selesai apa?”
Sonia : “Yang disuruh tadi sama mama.”
Sarungela : “O, sudah mi, kak.”
Sarah : “Bisanya itu?” (Sambil membaca koran di tangannya).
Sonia : “Ha, sombong sekali.” (Memandang Sarungela sinis).
Sarungela : “Cek kalau tidak percaya.”
Sarah : “Iyo, di. Sudah bersih. Kenapa cepat sekali? Pasti pakai ilmu hitam ini.” (Sambil melihat sekeliling).
Sarungela : “Hm, Sarungela dilawan.” (Sambil meninggalkan rumah).
Sonia : “Pelan saja.”

Adegan VI
Pada suatu hari, mama telah selesai membuat kue untuk dijual oleh Sarungela.
Mama : (Sambil merapikan kue). “Huh, mau ada mi lagi uangku. Berapa harganya ini satu biji kue mo dijual di? Seribu? Terlalu murah. Lima ribu? Hm, sepuluh ribu? Terlalu mahal. Dua ribu saja, beh.”
Kemudian, Sarah dan Sonia datang mendekati mama yang sedang merapikan kue yang akan dijual Sarungela.

Sarah : “Ma, lagi apa?”
Mama : “Huh, sa lagi rapikan ini kue kasihan, anakku.”
Sarah : “O, ma. Ada berita baru. Masa toh, Raul Lemos, orang Timor Leste da menikah sama diva Indonesia, Krisdayanti.” (Dengan cekatan, tangan Sonia mengambil kue).
Mama : “Huh, astaga! Sa sudah tahu mi itu, nak. Tiap hari sa nonton infotaiment.”
Sonia : “Baru toh, ma, di resepsinya, mantan suaminya Krisdayanti, Anang, da peluk Raul Lemos. Homo toh, ma?” (Dengan cekatan, tangan Sarah mengambil kue).
Mama : “Kalian deh, bawa berita-berita basi, tidak up to date. Makanya, ikuti mamamu. Browsing internet setiap hari, gitu lho.” (Sambil memalingkan mukanya ke arah kue).
Sarah & Sonia : “Eits, Mama.” (Saling menepukkan tangan).
Mama : “Ih, kenapa ini kue? Sepertinya da berkurang.” (Sambil memalingkan wajah kepada Sonia dan Sarah). “Dasar kalian! Pergi sana!” (Sarah dan Sonia kabur). “Sarungela!” (Berteriak).
Sarungela : “Iya, ma. What happen aya naon?”
Mama : “Ko pergi jual ini kue! Dua ribu sebiji. Pokoknya harus laku semua. Kalau tidak laku, lihat saja nanti.”
Sarungela : “Iya, ma.” (Sambil mengambil talang yang berisi kue).

Adegan VII
Di depan rumah, Sarungela menaruh talang berisi kue di atas kepalanya. Tiba-tiba, Om Peri muncul lagi.
Om Peri : “Assalamu’alaikum Wr. Wb!”
Sarungela : “Wa’alaikumsalam Wr. Wb! Om Peri, sa sedih. Sa disuruh jual kue harus laku semua, baru banyaknya mi ini. Om Peri, bantu pi saya jualan.”
Om Peri : “Ayo!”
Mereka pun mulai menjual kuenya. Karena kelaparan, tangan nakal Om Peri bergerilya di atas talang kue Sarungela.
Sarungela : “Ih, Om Peri jangan begitu! Sa dibunuh nanti pulang. Mulai mi menjual!“
Om Peri : “Maaf, lapar kasihan. Baiklah, sa mulai mi pale. Jalangkote! Panada!”
Sarungela : “Resoles! Tahu Isi! Donat! Dua ribu sebiji.”

Adegan VIII
Di sebuah taman di depan rumah yang sangat mewah, duduk seorang wanita yang bernama Ibu Tendri. Di seberang jalan, lewatlah Om Peri dan Sarungela.
Om Peri : “Jalangkote! Panada!”
Ibu Tendri : “Kue! Kue! Kemari!”
Sarungela : (Mendekat) “Mau beli apa, tante?” (Bertanya kepada wanita itu).
Ibu Tendri : “Panada dua dan resoles dua.” (Ketika Sarungela membungkus kue pesanan Ibu Tendri, Ibu Tendri memperhatikan sarung yang dikenakan Sarungela).

Sarungela : “Ini tante, kuenya. Kenapa tante lihat-lihat sarungku?”
Ibu Tendri : (Tersenyum) “Oh, sarungmu bagus.”
Sarungela : “Terima kasih, tante.”
Ibu Tendri : “Berapa harganya semua?”
Sarungela : “Hm, panada dua dengan resoles dua. Sebiji lima ribu, jadi semuanya dua puluh ribu.” (Sambil menghitung dengan jari).
Ibu Tendri : “Tunggu sebentar, ya!” (Membuka dompet dan mulai menghitung uang).
Om Peri : (Berbisik) “Woi, tidak kemahalan itu?”
Sarungela : (Berbisik) “Orang kaya ji. Lihat pi! Ada laptopnya, dompetnya tebal. Saya curiga pasti ada Honda Jazznya.”
Om peri : (Berbisik) “Baiklah, yang penting ko senang.”
Ibu Tendri : ”Oh, ini uangnya dek.” (Memberikan selembar uang dua puluh ribu).
Sarungela : “Terima kasih, tante. Permisi!”
Ibu Tendri : “Iya.”

Adegan IX
Minggu-minggu berikutnya, Sarungela selalu lewat berjualan kue di depan rumah Ibu Tendri dan Ibu Tendri selalu membeli kue Sarungela. Suatu hari, Ibu Tendri mengajak Sarungela untuk duduk berbincang-bincang.
Ibu Tendri : (Memanggil Sarungela) “Dek, kemari! Temani tante duduk di sini!”
Sarungela : “Boleh.” (Duduk di samping Ibu Tendri).
Ibu Tendri : “Siapa namamu?”
Sarungela : “Sarungela, tante.”
Ibu Tendri : “Oh, pantasan kamu sering memakai sarung.”
Sarungela : “Iya. Sarung ini adalah peninggalan orang tua kandung saya dulu. Kata ibu panti asuhan, waktu bayi, sa ditemukan dengan ini sarung.”
Ibu Tendri : “Di mana sekarang kamu tinggal?”
Sarungela : “Jalan Sepatu nomor 16, Kelurahan Kadia.”
Ibu Tendri : “Berapa umurmu sekarang? Terus kapan kamu diadopsi?”
Sarungela : “Sekarang umurku enam belas tahun. Sa diasopsi umur delapan tahun.”
Ibu Tendri : (Wajah Ibu Tendri mulai terlihat aneh). “Bagaimana kehidupanmu sekarang di rumah orang tua angkatmu?”
Sarungela : (Dengan wajah yang sedih) “Jangan dibilang, tante. Di sana, sa dianggap sebagai pembantu oleh mama dan kedua kakak angkatku. Tiap hari sa bangun pagi-pagi sekali, beres-beres rumah, memasak dan ke pasar. Baru banyak sekali utangnya mereka. Sa malu sekali.”
Ibu Tendri : “Kasihan sekali kamu, nak.” (Sambil mengusap-usap kepala Sarungela). “Bisa tante pegang sarungmu?”
Sarungela : “Oh, iya.”
Ibu Tendri mulai memegang ujung sarung tersebut, dirasakannya kainnya. Ibu Tendri kemudian melihat pola sarung tersebut. Wajahnya mulai terlihat aneh. Kemudian ia melihat mata Sarungela. Ibu Tendri mulai bersedih.

Sarungela : “Kenapa, tante?”
Ibu Tendri : (Mata menerawang) “Enam belas tahun yang lalu, saya dan suami saya mempunyai seorang anak perempuan yang sangat kami sayangi. Namun, suatu hari, saya lalai menjaga dia. Dia diculik oleh lawan bisnis suami saya. Sebelum anak saya hilang, saya melilitkan sarung di badannya. Sarung itu sama persis dengan sarung ini. Kamu adalah anakku yang hilang, Sarungela.”
Sarungela : (Kebingungan) “Mungkin sarungnya ji yang mirip, tante.”
Ibu Tendri : “Tidak mungkin. Sarung itu adalah tenunan nenek kamu dan diberikan kepadaku. Tidak mungkin ada duanya. Lagipula, umur kamu sama dengan bayi saya yang hilang. Mata kamu mirip sekali dengan ayahmu. Saya pasti tidak salah lagi, kamu adalah anakku.”
Sarungela : “Kalau begitu, ayah ada di mana?”
Ibu Tendri : (Semakin sedih) “Ketika kamu hilang, setiap hari ayah pergi mencari kamu. Dia tidak peduli lagi dengan kesehatannya. Lama-kelamaan, dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Maafkan ibumu ini, anakku! Ibu tak bisa menjagamu dengan baik.”
Sarungela : (Menangis dan memeluk ibunya itu) “Sudah mi ibu. Tidak apa-apa ji. Yang penting, sekarang kita telah bersama kembali. Sa senang sekarang bisa melihat ibu. Kalau begitu, sekarang sa tinggal mi di sini, ibu. Sa sudah tidak sanggup mi lagi kembali ke rumah. Sa sudah cukup menderita dengan semua ini.
Ibu Tendri : “Tidak bisa sekarang. Kita harus pamit sama keluarga angkatmu. Sebentar sore ibu akan menjemput kamu. Tapi kamu jangan memberi tahu mereka dulu. Nanti ibu yang memberi tahu mereka.”
Sarungela : (Sedih) “Iya, bu. Saya pulang dulu. Assalamu’alaikum!” (Mencium tangan ibu).
Ibu Tendri : (Sedih) “Wa’alaikumsalam! Sarungela…”
Sarungela : (Berteriak) “Kenapa, bu?”
Ibu Tendri : “Talangmu, nak. Kamu melupakannya.” (Memberikan talang kepada Sarungela).
Sarungela : “Terima kasih, bu.”

Adegan X
Di rumah, mama sedang duduk di ruang tamu. Tiba-tiba, datang seorang tamu.
Bapak rian : “Assalamu’alaikum!” (Mengetuk pintu).
Mama : “Wa’alaikumsalam! Silakan masuk, pak!” (Mempersilakan Bapak Rian duduk).
Mama : “Bapak siapa, ya? Ada perlu apa?”
Bapak rian : “Begini Bu. Perkenalkan, saya Rian. Saya adalah petugas BRI. Saya kemari ingin memberitahukan ibu bahwa rumah ini akan kami sita, karena sudah sepuluh bulan ibu tidak membayar pinjaman ibu sebesar lima puluh juta rupiah di bank. Ini surat kontraknya.” (Menyodorkannya kepada mama).
Mama : (Terkejut) “Tidak bisa ditunda dulu pak? Suami saya telah meninggal dan saya
juga sulit untuk mendapatkan uang. Tolonglah, pak!”
Bapak Rian : “Itu urusan pribadi ibu. Saya hanya manjalankan tugas. Lusa, rumah ini akan
disita. Jadi, ibu harus segera meninggalkan rumah ini. Saya permisi dulu.”
(bangkit dari kursi dan segera pergi).

Mama kemudian duduk terdiam. Tak lama kemudian, Sarungela tiba di rumah dengan wajah tidak seperti biasanya.
Sarungela : “Assalamu’alaikum!”
Mama : “Wa’alaikumsalam!”
Sarungela : “Ma, ini uangnya.” (Memberikan beberapa lembar uang kepada mama).
Mama : “Taruh di atas meja dapur!” (Masih sedih).
Sarungela : “Iya.” (Lalu menuju dapur).
Sarah dan Sonia datang.
Sarah & Sonia : “Eh, ada mama. Ada mama, ada uang.” (Duduk di sebelah mama).
Sonia : (Merayu) “Mama yang cantik.”
Sarah : “Kasih pi kita uang! Seratus ribu saja.”
Sonia : “Iya, mama kita kan cantik.”
Mama : (Memukul meja) “Heh, kalian itu, minta uang saja kerja. Kalian lihat itu Sarungela. Setiap hari, pergi jualkan kita kue. Kalian? Tidak ada kalian kerja. Pergi sana!”
Sarah : (Lari ke sudut ruangan) “Ih, da kenapa mama?”
Sonia : “Tidak tahu. Da gila mungkin.”
Sarah : “Kita pergi mi pale. Nanti kita gila seperti mama.”
Sonia : “Iyo di. Ayo!”
Tidak lama kemudian.
Ibu Tendri : “Assalamu’alaikum!” (Mengetuk pintu).
Mama : “Wa’alaikumsalam! Silakan masuk!” (Mempersilakan Ibu Tendri duduk). “Ibu siapa? Ada perlu apa?”
Ibu Tendri : “Perkenalkan, saya Ibu Tendri. Langsung saja…” (Pembicaraan terhenti).
Mama : (Memegang kepala) “Berhenti, berhenti! Langsung saja? Tadi kata langsung saja mengantarkan saya pada utang lima puluh juta rupiah. Sekarang utang apa lagi?”
Ibu Tendri : “Ibu, tenang! Keperluan saya ke sini adalah untuk menjemput Sarungela dan membawanya pulang ke rumah saya. Sarungela adalah anak saya yang hilang enam belas tahun yang lalu”.
Mama : (Menyangkal) “Mungkin ibu salah orang. Sarungela adalah anak adopsi saya.”
Ibu Tendri : “Tidak, saya sudah menyelidikinya. Saya yakin dia anak saya. Lagipula, ibu sendiri suka menyiksa Sarungela dan itu melanggar hukum.”
Mama : “Aduh, bu. Tolong jangan laporkan saya pada polisi. Kalau begitu, tolong beri saya waktu untuk berpikir!”
Ibu Tendri : “Baiklah. (Telepon genggam berbunyi, Ibu Tendri berdiri di sudut untuk menjawabnya) “Assalamu’alaikum! Ya. Oh, meeting jam lima? Baik. Wa’alaikumsalam!” (Duduk) “Ibu, sudah berpikirnya? Saya ada meeting jam lima sebentar. Tolong dipercepat!”
Mama : (Berfikir sejenak) “Begini saja, biar adil, saya dan anak-anak saya juga harus tinggal di rumah Ibu Tendri. Soalnya, lusa rumah ini akan disita bank. Tolonglah, bu!”

Ibu Tendri : (Berfikir sejenak) “Hm, baiklah. Berhubung ibu sudah membesarkan Sarungela. Tapi ada satu syarat. Kalian boleh tinggal di rumah saya, tapi sebagai pembantu. Bagaimana?”
Mama : (Kaget) “Apa? Pembantu? Tidak, tidak. Bagaimana dengan kuku dan kulit saya yang mulus ini?”
Ibu Tendri : “Ya, terserah ibu. Mau jadi pembantu atau gelandangan.”
Mama : (Berfikir sejenak) “Hah, baiklah. Saya setuju.”

Adegan XI
Setahun kemudian, di rumah Ibu Tendri. Sarungela dan ibu kandungnya itu sedang duduk di taman depan rumah.
Sarungela : (Sibuk mengutak-atik telepon genggam lalu berteriak) “Sarah! Sarah!”
Sarah : (Sambil berlari) “Iya. Kenapa?”
Sarungela : “Tadi malam, ban mobilku yang Honda Jazz da injak tai sapi. Pergi bersihkan sekarang! Cepat!”
Sarah : (Pergi lalu kembali lagi) “Yang warna apa?”
Sarungela : “Ih, sa lupa. Yang warna biru kalau saya tidak salah. Eh bukan, yang warna merah jambu. Pergi mi sana, cepat!”
Sarah : “Iya.” (Pergi ke halaman belakang rumah).
Sarungela : “Ini mi juga ibu. Belikan mobil satu kali tiga. Baru Honda Jazz semuanya.”
Ibu Tendri : “Maaf, nak. Ibu kira kamu suka merk itu. Begini saja, besok sore kita ke dialer, jual yang kamu tidak suka dan kita beli yang baru sebagai gantinya. Bagaimana?”
Sarungela : “Ibu, sa suka semuanya. Tambah saja bu, yang merk baru tapinya.”
Ibu Tendri : “Iya. Ingatkan ibu besok, ya!” (Sambil melanjutkan bacaanya).

Sarungela : “Terima kasih, ibu. Sa sayang sekali sama ibu.” (Sambil tersenyum pada ibunya lalu berteriak) “Sonia! Sonia!”

Sonia : (Sambil berlari) “Iya.”
Sarungela : “Pergi ambilkan laptopku yang baru dibelikan ibu kemarin! Di atas meja ruang tengah lantai empat. Sekarang! Jangan ko naik lift atau tangga jalan, ko naik tangga manual saja! Awas kalau sa lihat kamu naik lift. Cepat!“
Sonia : “Iya!” (Menghentakkan kaki lalu masuk rumah).
sarungela : “Mama! Mama Sosa!”
Mama : (Datang) “Kenapa?”
Sarungela : “Buatkan saya kue resoles yang enak sekarang!”
Ibu Tendri : “Panada juga. Sekarang! Sudah lapar ini.” (Memegang perut).
Mama : “Sebentar pi!”
Ibu Tendri : “Sekarang! Atau kamu mau saya usir?”
Mama : “Eh, jangan. Iya deh.” (Masuk rumah).
Sarungela : “Hm, senang rasanya melihat mereka.” (Tersenyum).
Ibu Tendri : “Tapi jangan sampai keterlaluan, anakku.”

Sarungela : “Iya, bu. Sa hanya ingin membuat mereka merasakan apa yang saya rasakan. Tidak lebih dari itu.” (Mereka berdua tersenyum).


Itulah kisah Sarungela. Ia bertemu kembali dengan ibu kandungnya. Mama dan dua kakak angkatnya telah insaf dan menyadari semua perbuatannya selama ini. Begitu juga dengan Om Peri. Om Peri tetap menolong anak-anak lain yang menderita seperti Sarungela dulu. Kini sarung Sarungela telah terlipat rapi di dalam lemari dan Sarungela kini dipanggil sesuai dengan nama asli pemberian dari ayahnya, yaitu Nurul Ilmi.

Tamat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar