welcome to my official blog

dream as you life forever. life likes you will die tomorrow. be the best . I do believe in fairy ! I do ! I do !

Senin, 20 Mei 2013

laporan praktikum genetika perbandingan imitasi genetis



BAB 1
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Bila makhluk hidup berkembang biak secara aseksual, keturunannya berkembang menjadi salinan tepat dari induknya selama mereka dibesarkan dalam keadaan yang sama. Sebaliknya, apabila berkembang biak secara seksual, maka keturunannya mengembangkan ciri–ciri yang saling berbeda dan berlainan pula dari salah satu tetuanya.
Jauh sebelum para biologiawan menemukan banyak fakta tentang meiosis dan mitosis, mereka mencoba menemukan aturan–aturan (kaidah) yang dapat menerangkan bagaimana ciri–ciri teramati pada keturunan itu berkaitan dengan yang dimiliki induknya dan bahkan orang tua dari induknya (Kimball, 1983).Dalam ilmu genetika, kemungkinan ikut mengambil peranan penting. Misalnya, soal pemindahan gen–gen dari orang tua/induk ke gamet–gamet, jenis spermatozoa yang membuahi sel telur, berkumpulnya kembali gen – gen di dalam zigot sehingga terjadi berbagai kombinasi .
Dari beberapa teori yang telah diformulasikan untuk menerangkan bagaimana sifat–sifat diwariskan, maka dua hal perlu mendapat perhatian khusus.Salah satu diantaranya, teori Gregor Johann Mendel, seorang biarawan asal Austria memberikan dasar–dasar yang menjadi landasan karya–karya dalam bidang genetika. Yang lain, teori mengenai pewarisan sifat–sifat perolehan, walau gagal lulus berbagai uji ilmiah, tetapi berlanjut dan dipertahankan para ahlinya.
Atas jasa Mendel yang mencetuskan hukum Mendel I dan Mendel II, maka ilmu pengetahuan mengenai genetika lebih dapat dikaji pada masa itu dan teori Mendel masih terus dikaji hingga zaman sekarang.Untuk mengetahui azas – azas yang diperoleh Mendel, maka dilakukanlah percobaan ini.
I.2  Tujuan percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang kemungkinan gen–gen yang dibawa oleh gamet-gamet tertentu dan akan bertemu secara acak.
I.3  Waktu dan tempat percobaan
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 7 Maret 2013 pukul 14.30 - 17.30 WITA bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin Makassar.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Teori hanya menyatakan bahwa sifat–sifat yang diperoleh induk selama masa hidupnya dapat diturunkan kepada keturunannya.Teori ini biasanya digabungkan dengan Lamarck, seorang biologiawan Prancis, yang menggunakan teori tersebut dalam upaya menerangkan banyak penyesuaian mencolok pada alam sekitarnya yang diperlihatkan tumbuhan dan hewan.Ilustrasinya yang paling terkenal ialah jerapah.Ia memastikan bahwa leher panjang jerapah berkembang perlahan–lahan sebagai akibat generasi–generasi jerapah mengulurkan lehernya untuk mencari–cari dedaunan pohon. Setiap generasi menurunkan kepada keturunannya penambahan sedikit pada lehernya yang disebabkan terus–terusan mengulur itu 
            Seperti yang kita ketahui bahwa ada sifat-sifat yang diwariskan oleh induk kepada keturunanya.Sifat–sifat tersebut bisa saja berupa sifat dominan ataupun resesif. Ada faktor–faktor yang menyebabkan terjadinya variasi dalam setiap generasi sehingga tidak ada satu organisme pun yang sama. Sifat tersebut diturunkan dari hasil persilangan antara organisme jantan dan betina yang melalui pembelahan meiosis sehingga terjadilah variasi genetik faktor pewarisan sifat 
Teori kita mengenai sifat turun temurun pertama kali dikerjakan oleh pendeta Austria yang bernama Gregor Johann Mendel.Meskipun banyak pewarisan sifat yang memunculkan banyak pemikiran selama ribuan tahun, tapi Mendel yang pertama kali mempublikasikan ilmu yang menjadi fondasi genetika saat ini sekitar 140 tahun lalu (Baharuddin, 2009).Dari tahun 1858 sampai 1866, Mendel bekerja di kebun gereja di kota Brunn, bertanam ercis (Pisum sativum) dan memeriksa keturunan – keturunannya 
Keputusan Mendel untuk bekerja dengan kacang ercis biasa merupakan pilihan yang sangat tepat.Tanaman itu tersedia dalam banyak varietas mulai dari segi warna bunga, ukuran dan bentuk kacangnya.Sebagaimana pada banyak tanaman polong, daun bunganya seluruhnya menutupi organ–organ seksnya.Benang sari menghasilkan serbuk sari (yang membawa gamet–gamet jantan dan putik) menghasilkan gamet betina, yaitu telur.Walau kadang–kadang serangga dapat masuk kedalam organ–organ seks, namun biasanya terjadi penyerbukan sendiri.Mendel dapat membuka kuncup–kuncupnya dan membuang benang sari sebelum menjadi masak. Kemudian dengan menyapu-nyapukan serbuk sari dari tanaman lain pada putik, maka dapat berlangsung penyerbukan silang
Pilihannya atas ercis ternyata tepat benar juga karena terdapat banyak varietas yang berlainan secara nyata.Beberapa menghasilkan biji keriput da nada juga yang menghasilkan biji yang bernas.Beberapa lagi bijinya ada yang membentuk kotiledon hijau dan ada yang membentuk kotiledon kuning.Dalam salah satu percobaannya, Mendel menyilangkan varietas biji bulat dengan varietas biji keriput.Generasi parental ini disebut generasi P. serbuk sari dan benang sari varietas biji bulat diserbuki pada putik varietas biji keriput. Silang berlawanan dilakukan: serbuk dari benang sari varietas biji keriput dioleskan pada putik varietas biji bulat. Dalam kedua kasus inii setiap biji yang dihasilkan oleh bunga – bunga yang diserbuk silang ini bulat – bulat.Mendel menamakan generasi kedua itu generasi hibrid karena terjadi oleh tumbuhan induk yang berlainan.Juga disebut F1
Mendel mempelajari beberapa pasang sifat pada tanaman kapri. Masing-masing sifat yang dipelajari adalah: tinggi tanaman, warna bunga, bentuk biji, dan lain-lain yang bersifat dominan dan resesif. Mula-mula Mendel mengamati dan menganalisis data untuk setiap sifat, dikenal dengan istilah monohibrid.Selain itu Mendel juga mengamati data kombinasi antar sifat, dua sifat (dihibrid), tiga sifat (trihibrid) dan banyak sifat (polihibrid).Hasil percobaannya ditulis dalam makalah yang berjudul Experiment in Plant Hybridization
Munculnya kembali ercis keriput pada F2 hanyalah berarti bahwa setidaknya beberapa dari tumbuhan F1, juga mengandung suatu faktor bagi keadaan biji keriput.Akan tetapi, pada generasi F1 keberadaan faktor tersebut tidak jelas.Ciri – ciri yang diteruskan tanpa perubahan kepada generasi F1 (misalnya biji bulatdisebut dominan oleh Mendel.Ciri – ciri yang tersembunyi didalam F1, tetapi muncul kembali pada F2 (misalnya biji keriput), disebut resesif
Dalam percobaannya, Mendel juga mengemukakan tentang heterozigot dan homozigot. Heterozigot merupakan faktor yang mengandung dua gen berbeda sedangkan homozigot mengandung dua gen yang identik (Anonim, 2011).Ada juga istilah mengenai genotip dan fenotip. Genotip adalah faktor yang tidak tampak secara fisik dalam pewarisan sifat yang biasanya dijelaskan dengan simbol (misalnya Rr, DD, mm) sedangkan fenotip merupakan sifat nampak secara fisik yang menampakan sifat yang telah diwarisi dari orang tua/induk ke keturunannya.
Dalam percobaan Mendel, dikenal beberapa macam perkawinan yaitu perkawinan respirok, back cross, dan test cross.Perkawinan respirok merupakan perkawinan kebalikan dari yang semula dilakukan. Perkawinan ini bertujuan untuk membuktikan bahwa induk jantan dan betina memiliki kesempatan yang sama dalam mewarisi sifat. Perkawinan balik (back cross) merupakan perkawinan antara individu F1 dengan salah satu induknya yang berguna untuk mencari genotip induknya.Uji silang (test cross) merupakan perkawinan antara individu F1 dengan salah satu induknya yang bersifat homozigot resesif yang bertujuan untuk mengetahui apakah individu itu bersifat homozigot atau heterozigot.Apabila hasilnya menunjukkan beberapa fenotip keturunan maka individu yang diuji adalah heterozigot
Dalam percobaannya, Mendel melakukan persilangan monohibrid.Mendel melakukan persilangan tanaman ercis berbiji bulat dengan tanaman ercis berbiji keriput.Semua keturunan F1-nya berupa tanaman ercis berbiji bulat.Selanjutnya, F1 disilangkan dengan sesamanya dan menghasilkan keturunan F2. Perbandingan fenotip F2 = 3 berbiji bulat : 1 berbiji keriput. Berdasarkan percobaan tersebut, Mendel menyimpulkan bahwa pada pembentukan gamet, pasangan–pasangan gen sealel saling berpisah. Pemisahan gen ini terjadi selama proses meiosis berlangsung. Jadi, dalam setiap gamet terdapat 1 set kromosom. Kesimpulan tersebut dikenal sebagai hukum I Mendel atau yang dikenal dengan Hukum Segregasi.Pada percobaan berikutnya, Mendel melakukan persilangan dihibrid.Mendel menggunakan dua sifat berbeda dari tanaman ercis yaitu bentuk dan warna biji.Mendel menyilangkan tanaman ercis berbiji bulat–kuning dengan tanaman ercis berbiji keriput–hijau.Semua keturunan F1-nya berbiji bulat kuning.setelah F1 disilangkan dengan sesamanya, diperoleh perbandingan fenotip F2-nya 9:3:3:1. Berdasarkan hasil dari percobaan tersebut, Mendel mengambil kesimpulan bahwa setiap gen dapat berpasangan secara bebas dengan gen lain. Kesimpulan tersebut dikenal dengan hukum II Mendel atau yang lebih dikenal dengan hukum segregasi.Hukum segregasi ini berlaku untuk gen yang letaknya berjauhan dan tidak berlaku jika kedua gen terletak berdekatan
Terkadang, teori dan fakta di lapangan berbeda.Ketika percobaan telah dilakukan, hasilnya menyimpang dari teori yang sudah ada. Akhirnya, timbullah keraguan akan percobaan yang telah dilakukan di laboratorium atau lapangan. Maka, untuk menjawab keraguan tersebut kita  perlu melakukan suatu pengujian dengan melihat besarnya  penyimpangan  nilai pengamatan terhadap nilai harapan. Selanjutnya besarnya penyimpangan tersebut dibandingkan terhadap kriteria model tertentu. Dalam percobaan persilangan akan dibandingkan frekuensi genotipe yang diamati terhadap frekuensi harapannya dan untuk mengamati kemungkinan tipe-tipe persilangan, maka digunakan teori kemungkinan
Teori kemungkinan merupakan dasar untuk menentukan nisbah yang diharapkan dari tipe-tipe persilangan genotip yang berbeda.Pengunaan teori ini memungkinkan kita untuk menduga kemungkinan diperolehnya suatu hasil tertentu dari persilangan tersebut
          Seringkali kita ragu–ragu apakah data hasil percobaan yang kita lakukan dapat dipercaya akan kebenarannya. Lebih–lebih jika diingat bahwa pada percobaan biologis itu tidak mungkin didapatkan data yang segera dipertanggungjawabkan seperti halnya dengan matematika.Berhubung dengan itu adanya penyimpangan (deviasi) antara hasil yang didapat dengan hasil yang diharapkan secara teoritis harus dievaluasi. Suatu cara untuk mengadakan evaluasi itu adalah melakukan tes X2 (bahasa inggrisnya: chi-square test). Sebenarnya itu bukan huruf X, melainkan huruf yunani “phi” (Ӽ). Untuk mudahnya, huruf yunani tersebut kita anggap sebagai huruf X. Rumus yang digunakan ialah (Suryo, 1984):
Ӽ2
Keterangan :
X2  =  Chi kuadrat
d = Deviasi/penyimpangan, ialah selisih antara hasil yang diperoleh dan hasil   yang diramal.
e=  Hasil yang diramal/nilai harapan
∑ =  Sigma (jumlah keseluruhan)
          Dalam perhitungan nanti harus diperhatikan pula besarnya derajat kebebasan, yang nilainya sama dengan jumlah kelas fenotip dikurangi dengan satu. Jadi, andaikan perkawinan monohibrid menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotip 3:1 (ada dominansi penuh), berarti ada dua kelas fenotip, sehingga derajat kebebasannya = 2-1 = 1. Jika terdapat sifat intermedier, keturunannya memperlihatkan perbandingan 1:2:1. Berarti disini ada 3 kelas fenotip, sehingga derajat kebebasannya 3-1=2. Pada perkawinan dihibrid didapatkan keturunan dengan perbandingan 9:3:3:1 berarti ada 4 kelas fenotip, sehingga derajat kebebasannya 4-1=3 (Suryo, 1984).
Contohnya jika suatu tanaman berbatang tinggi  heterozigotik (Tt) menyerbuk sendiri dan menghasilkan keturunan yang misalnya terdiri dari 40 tanaman berbatang pendek. Apakah hasil tersebut dapat dipercaya akan kebenarannya, artinya apakah sesuai dengan hukum Mendel (Suryo, 1984).
Jawabannya: Menurut Mendel, suatu, monohibrid (Tt) yang meneyerbuk sendiri seharusnya menghasilkan keturunan dengan poerbandingan fenotip 3 tinggi : 1 pendek. Jadi secara teoritis seharusnya didapatkan 45 tanaman berbatang tinngi dan 15 tanaman berbatang pendek (Suryo, 1984).
                                    Tinggi                          Pendek                                    Jumlah
Diperoleh (o)                 40                                 20                                60
Diramal    (e)                 45                                 15                                60
Deviasi    (d)                 -5                                  +5                            
                               0,555                            1,666
= 0,555 + 1,666 = 2,221
Selanjutnya kita menggunakan tabel X2.dalam tabel itu deretan angka paling atas mendatar merupakan nilai kemungkinan. Kolom sebelah kiri tegak lurus memuat angka-angka yang menunjukkan besarnya derajat kebebasan (dk).Angka-angka lainnya adalah nilai X2(Suryo, 1984).
Menurut para ahli statistik, apabila nilai X2 yang didapat dibawah kolom nilai kemungkinan 0,05, itu berarti bahwa data yang diperoleh dari percobaan itu buruk. Ini disebabkan karena penyimpangan sangat berarti danada faktor lain diluar faktorkemungkinan berperan disitu.jadi data hasil percobaan dapat dianggap baik apabila nilai X2 yang didapat berada didalam kolom nilai kemungkinan 0,05 atau dikolom sebelah kirinya (Suryo, 1984).

Minggu, 19 Mei 2013

penjelasan ilmiah genetika tentang misteri ANAK GENDERUWO

please like my article on facebook POJOK BIOLOGI UNHAS

           Apakah anda masih ingat dengan Thebo? Ya, thebo adalah orang yang paling fenomenal di Indonesia di era 90-an karena kelainan fisik yang dialaminya. Thebo disinyalir merupakan hasil perselingkuhan antara manusia dan genderuwo. Rumor ini beredar karena fisik thebo yang aneh yaitu ditumbuhi rambut-rambut di sekujur tubuhnya termasuk di bagian wajahnya. Ciri-ciri tersebut mirip dengan ciri dari makhluk gaib yang bernama genderuwo.
            Secara ilmiah, jelas tak mungkin perkawinan antar manusia dan makhluk lain menghasilkan suatu keturunan. Hal ini di akibatkan karena perbedaan DNA (Deoxyribonucleat Acid) yang menyebabkan tidak memungkinkannya kasus tersebut. Dosen yang sekaligus guru besar dari Departemen Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, Wimpie Pangkahila menyangkal fenomena tersebut. Dia menjelaskan, tidak mungkin ada anak genderuwo yang disebut-sebut sebagai buah hubungan percintaan antara manusia dengan genderuwo, mungkin hanya hal itu diakibatkan karena cacat fisik.Secara genetika, tidaklah mungkin perkawinan antara domba dan kucing menghasilkan kucing setengah domba. Dalam kasus manusia berbulu ini, dapat disinyalir bahwa manusia tersebut menderita suatu kelainan yang menyebabkan pertumbuhan rambut yang hebat di sekujur tubuhnya. Di bidang genetika, kelainan ini disebut Hypertrichosis.
            Hypertrichosis (juga disebut sebagai Ambras Syndrome) merupakan kondisi pertumbuhan rambut yang berlebihan, baik di seluruh bagian tubuh maupun di area tubuh tertentu. Kelainan ini juga dikenal sebagai Werewolf Syndrome, karena dalam kasus yang cukup parah penampilan penderitanya akan menyerupai werewolf atau manusia serigala. Pertumbuhan rambut pada penyakit Hypertrichosis ini secara genetika disebabkan karena tertaut kromosom kelamin Y tetapi kasus ini tidak berkaitan dengan hormon androgen sehingga penyakit ini dapat terjadi pada pria maupun wanita.
            Hypertrichosis yang dialami oleh “anak genderuwo” tersebut merupakan hypertrichosis umum, yaitu hypertrichosis yang terjadi diseluruh tubuh. Sangat malang nasib yang dialami "anak genderuwo" tersebut, cacat tubuh yang dialaminya di anggap sebagai mitologi yang terjadi di masyarakat Indonesia yaitu genderuwo si makhluk ghaib. Semoga penjelasan ilmiah dari saya membuka mata masyarakat Indonesia bahwa cacat fisik dari seseorang hanyalah sebuah kekurangan, bukanlah suatu hal yang mistis.

article by:
Annisa nurul ilmi
NIM : H41112328
Biologi B         

Minggu, 14 April 2013

ALEL GANDA

GENETIKA
                                                             
PERCOBAAN V
ALEL GANDA

NAMA                     : ANNISA NURUL ILMI
NIM                       : H41112328
HARI/TANGGAL : KAMIS/  28 MARET 2013
KELOMPOK         :  I (SATU) B
ASISTEN                : PINKAN C.I. TUMANDUK


LABORATORIUM GENETIKA JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang
Sebuah gen dapat memiliki lebih dari sebuah alel. Alel-alelnya disebut alel ganda (multiple allele). Sedangkan peristiwa dimana sebuah gen dapat menyebabkan inkompatibilitas, yaitu kegagalan tanaman untuk fertilisasi setelah menyerbuk sendiri atau persilangan. Peristiwa inkompatibilitas ini disebabkan alel pada tepung sari sama dengan alel pada sel telur, sehingga tepung sari yang terdapat pada kepala putik tidak dapat membentuk buluh tepung sari (Murniati,2010).
Namun, kenyataan yang sebenarnya lebih umum dijumpai adalah bahwa pada suatu lokus tertentu dimungkinkan munculnya lebih dari hanya dua macam alel, sehingga lokus tersebut dikatakan memiliki sederetan alel.Fenomena semacam inilah yang disebut sebagai alel ganda.Meskipun demikian, pada individu diploid, yaitu individu yang tiap kromosomnya terdiri atas sepasang kromosom homolog, betapa pun banyaknya alel yang ada pada suatu lokus, yang muncul hanyalah sepasang (dua buah) (Murniati,2010).
Pada tumbuhan, hewan dan manusia dikenal beberapa sifat keturunan yang ditentukan oleh suatu seri alel ganda.Golongan darah ABO yang ditemukan oleh Landsteiner pada tahun 1900 dan faktor Rh yang ditemukan oleh Landsteiner bersama Weiner pada tahun 1942 juga ditentukan alel ganda.Untuk golongan darah tipe ABO misalnya, dkanal alel ganda IAIB dan I, harus dipahami tentang pengertian tentang antigen, zat anti (antibodi) dan aglutinasi (Siti, 2011).
Mengetahui alel yang merupakan unit struktur utama yang pada akhirnya mampu menciptakan individu baru dari hasil persilangan merupakan hal yang penting.Dengan melakukan percobaan mengenai Alel Ganda, pemahaman tentang pewarisan sifat terutama mengenai alel ganda dalam penggolongan darah dapat dipahami.
I.2 Tujuan percobaan
            Adapun tujuan dari percobaan mengenai alel ganda yakni sebagai berikut.
1.      Menetapkan golongan darah masing-masing individu dalam populasi kelas.
2.      Memahami pola pewarisan alel ganda, khususnya golongan darah manusia.
3.      Menghitung frekuensi alel IA, IB, dan I dalam populasi kelas.
I.3 Waktu dan tempat percobaan
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 28 Maret 2013 pukul 14.30 – 17.30 WITA bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Bila seseorang mengatakan kata alel, yang terbayang dibenak kita adalah sepasang gen yang terdiri dari dua anggota yang masing-masing terletak pada lokus (tempat) yang sama dalam pasangan kromosom yang homolog (Siti, 2011). Sampai pembicaraan sejauh ini kita beranggapan bahwa suatu lokus dalam sebuah kromosom itu hanya ditempati oleh salah satu dari sepasang alel saja. Apabila sebuah lokus dalam sebuah kromosom ditempati oleh beberapa atau suatu seri alel maka alel-alel demikian disebut alel ganda (dalam bahasa inggris: “multiple alleles”). Peristiwanya dinamakan multiple allelmorfi (Suryo, 1984).
Belum banyak yang mengetahui bahwa dalam alel itu ada yang disebut sebagai alel ganda beserta contoh dan komponen-komponen yang terdapat didalamnya.Contoh sederhananya adalah darah yang memberikan peranan amat penting untuk kehidupan suatu organisme.Masyarakat luas sudah tidak asing lagi dengan kata golongan darah atau transfusi darah atau bahkan tak heran dengan berbagai variasi warna bulu pada kelinci. Namun pengetahuan mereka hanya sebatas itu tanpa mengetahui apa hubungannya dengan alel ganda yang terdapat pada gen. Alel ganda bukan hanya sebatas ada pada manusia melainkan pada hewan dan tumbuhan pun alel ganda itu ada. Tetapi ada perbedaan antara alel ganda pada manusia, hewan, dan tumbuhan (Siti, 2011).
Gen ganda adalah suatu seri gen yang menentukan pewarisan secara kuantitatif. Beberapa sifat pada manusia, hewan maupun tumbuhan seringkali ditentukan oleh adanya gen ganda. Misalnya,tinggi badan manusia, pigmentasi kulit,panjang tongkol jagung dan sebagainya (Anonim, 2012).
   Karena pada suatu organisme jumlah gen jauh lebih besar daripada jumlah kromosom, maka tiap kromosom harus mengandung banyak gen. tempat pada kromosom dimana terdapat suatu gen tertentu disebut lokus. Kedua alela yang mengontrol suatu sifat tertentu, terletak pada lokus yang sama pada masing-masing kromosom yang homolog. Untuk memperagakan kebenaran teori kromosom, kita harus mampu menghubungkan ada atau tidak adanya suatu sifat tertentu dengan ada atau tidaknya suatu kromosom tertentu didalam sel-sel organisme itu. Tetapi menurut teori kromosom, kedua alela yang mengontrol pemunculan suatu sifat tertentu itu, terletak di lokus yang sama pada dua kromosom yang homolog. Kromosom yang homolog, secara visual tidak dapat dibedakan satu sama lain. Dengan demikian dengan mengamati satu anggota dari pasangan itu tidaklah mungkin untuk menyatakan apakah kromosom tersebut mengandung alela tertentu atau tidak (Kimball, 1983).
Alel dapat menunjukkan derajat dominansi dan keresesifan yang berbeda-beda satu sama lain. Dalam persilangan ercis Mendel, keturunan F1 selalu terlihat seperti salah satu dari kedua varietas induk sebab salah satu alel dalam satu alel tersebut menunjukkan dominani sempurna terhadap alel yang satu lagi. Dalam situasi semacam itu, fenotip heterozigot dan homozigot dominan tidak dapat dibedakan (Campbell, dkk., 2010).
Variasi lain pada hubungan dominansi diantara alel-alel disebut kodominansi. Dalam variasi ini, kedua alel sama-sama mempengaruhi fenotip dengan cara terpisah dan dapat dibedakan. Misalnya golongan darah MN manusia ditentukan oleh alel-alel kodominan untuk dua molekul spesifik yang terletak pada permukaan sel darah merah, molekul M dan N. satu lokus tunggal, yang bisa mengandung dua variasi alel, menentukan fenotipe golongan darah ini. Pada orang yang homozigot untuk alel N (NN) memiliki sel darah merah yang hanya mengandung molekul N. akan tetapi molekul M maupun N terdapat pada sel-sel darah merah orang yang heterozigot untuk alel M dan N (MN). Perhatikan bahwa fenotipe MN bukan pertengahan antara fenotipe M dan N, yang membedakan kodominansi dan dominansi tak sempurna.fenotipe M maupun N sama-sama ditunjukkan oleh heterozigot, karena kedua molekul itu ada (Campbell, dkk., 2010).
Hanya ada dua alel untuk karakter-karakter ercis yang dipelajari oleh Mendel, namun sebagian besar gen terdapat dalam dua bentuk alel atau lebih. Golongan darah ABO pada manusia misalnya, ditentukan oleh tiga alel dalam satu gen tunggal IA, IB, dan i. golongan darah seseorang (fenotipe) mungkin salah satu dari empat tipe: A, AB, AB, atau O. huruf-huruf ini mengacu pada dua karbohidrat-A dan B- yang bisa ditemukan dipermukaan sel darah merah. Sel darah seseorang mungkin memiliki karbohidrat A (golongan darah A), karbohidrat B (golongan darah B), keduanya (golongan darah AB), atau tidak keduanya (golongan darah O) (Campbell, dkk., 2010).
Pada tahun 1900 K. Landsteiner menemukan lokus ABO pada manusia yang terdiri atas tiga buah alel, yaitu IA, IB, dan i. Dalam keadaan heterozigot IA dan IB bersifat kodominan, sedang i merupakan alel resesif  Golongan darah ABO diatur oleh dua gen (alel) isoaglutinogen yang berinteraksi satu sama lain. Golongan darah yang dapat diperiksa merupakan fenotipe, sedangkan dua alel yang mengaturnya adalah genotip.Antigen A dan B bersifat kodominan, artinya keberadaan kedua antigen tersebut sama-sama bersifat dominan terhadap tidak adanya antigen (O). Golongan darah A mungkin memiliki genotip AA atau AO. Demikian juga B, mungkin memiliki genotipe BB atau BO.Sedangkan O pasti memiliki genotipe OO dan AB memiliki genotipe AB (Anonim, 2012).
Telah diketahui bahwa golongan darah seseorang ditetapkan berdasarkan macamnya antigen dalam eritrosit yang dimilikinya.  Orang yang mampu membentuk antigen-A memiliki alel IA dalam kromosom, yang mampu membentuk antigen-B memiliki alel IB, yang memiliki alel IA dan IBdapat membentuk antigen-A dan antigen-B, sedangkan yang tidak mampu membentuk antigen sama sekali memiliki alel resesif I. interaksi antara alel-alel IA, IB dan I menyebabkan terjadinya 4 fenotip golongan darah A, B, AB, dan O (Suryo, 1984)
            Lokus ABO mengatur tipe glikolipid pada permukaan eritrosit dengan cara memberikan spesifikasi jenis enzim yang mengatalisis pembentukan polisakarida di dalam eritrosit tersebut. Glikolipid yang dihasilkan akan menjadi penentu karakteristik reaksi antigenik tehadap antibodi yang terdapat di dalam serum darah. Antibodi adalah zat penangkal terhadap berbagai zat asing (antigen) dan zat-zat yang tidak diinginkan lainnya yang masukkedalam tubuh (Anonim,2012).
            Dalam tubuh seseorang tidak mungkin terjadi reaksi antara antigen dan antibodi yang dimilikinya sendiri (Anonim, 2012).Karl Landsteener dalam penelitiannya menemukan adanya dua antibodi ialamiah disalam darah dan dua antigen pada permukaan eritrosit.Inilah penyebab terjadinya penggumpalan (aglutinasi) sel-sel darah merah (eritrosit) dari beberapa individu apabila dicampur dengan serum dari beberapa orang. Antigen dan antibody dalam golongan darah tersebut adalah (Agus dan Sjafaraenan, 2013)
Golongan darah
(fenotip)
Antigen dalam
Eritrosit
Antibodi dalam
Serum
A
A
Anti-B
B
B
Anti-A
AB
A dan B
-
O
-
Anti-A dan anti-B
:
Namun, pada transfusi darah kemungkinan terjadinya reaksi antigen-antibodi yang mengakibatkan terjadinya aglutinasi (penggumpalan) eritrosit tersebut sangat perlu untuk diperhatikan agar aglutinasi dapat dihindari.Golongan darah diturunkan dengan persilangan genetik Mendel. Peluang golongan darah anak dilihat dari golongan darah kedua orangtuanya dapat dilihat pada tabel berikut (Utomo, 2009)..
Golongan darah orang tua
Golongan darah anak
Ortu I
Ortu II
O
A
B
AB
O
O
+
-
-
-
O
A
+
+
-
-
O
B
+
-
+
-
O
AB
-
+
+
-
A
A
+
+
-
-
A
B
+
+
+
+
A
AB
-
+
+
+
B
B
+
-
+
-
B
AB
-
+
+
+
AB
AB
-
+
+
+



Dari tabel di atas terlihat bahwa orang tua AB tidak mungkin memiliki anak dengan golongan darah O.
Seperti halnya dengan golongan darah A, B, AB, dan O, maka fakor Rh mempunyai arti penting dalam klinik. Dalam keadaan normal, serum dan plasma darah orang tidak mengandung anti-Rh. Akan tetapi orang dapat distimulir (dipacu) untuk membentuk anti-Rh, yaitu dengan jalan transfusi darah.Sebelum melakukan transfusi darah alangkah baiknya kecuali memeriksa golongan ABO, juga memperhitungkan peranan faktor Rh (Suryo, 1984).
            Fenotipe golongan darah Rh diatur oleh tiga pasang gen, yang diberi kode C/c, D/d, dan E/e. Gen yang berperan adalah kode D/d. Hanya genotipe d/d yang memberikan fenotipe Rh negatif, sedangkan genotipe D/D dan D/d memberikan fenotipe Rh positif. Faktor Rh juga diturunkan lewat persilangan genetik Mendel.Dua orang tua dengan Rh positif heterozigot mungkin memiliki anak dengan Rh negatif.Sedangkan wanita Rh negatif dapat memiliki anak Rh positif dengan pria Rh positif homozigot (Siti, 2011).
Memang golongan darah ABO, baik itu Rh (+) maupun Rh (-), umumnya terdistribusi dengan golongan darah O paling dominan, diikuti golongan darah A, B, dan terakhir golongan darah AB paling tidak umum. Namun distribusi ini bervariasi jika ditinjau antarbangsa.Di kalangan orang Asia dan Afrika golongan arah Rh (-) sangat tidak umum (kurang dari 1%), sedangkan pada bangsa Basque (di Spanyol dan Prancis) populasi dengan Rh (-) mencapai 35%.Bangsa Eropa lain rata-rata memiliki populasi Rh (-) 15%. Di Turki dan Norwegia golongan darah A lebih banyak daripada O (Siti, 2011).
Setelah diketahui adanya inkompatibilitas mengenai faktor Rh yang dapat menimbulkan bahaya pada bayi, maka para ahli mulai menaruh perhatian dengan melakukan penyelidikan inkompabilitas dalam berbagai tipe golongan darah (Suryo, 1984).

















BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1 Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah lancet, autoclick, pipet, objek gelas dan pinset.
III.2 Bahan
            Bahan yang digunakan dalam percobaan ini berupa kapas beralkohol, darah masing-masing sebanyak dua tetes dan serum anti-A dan anti-B.
III.3 Prosedur kerja
            Prosedur kerja pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
1.      Membersihkan salah satu jari tangan yang akan diambil darahnya dengan kapas yang terlah diberi alkohol.
2.      Menusuk salah satu jari tangan dengan autoclick yang telah terisi jarum.
3.      Meneteskan darah sebanyak 2 tetes di atas objek gelas.
4.      Meneteskan serum anti-A di tetesan darah pertama dan serum anti-B di tetesan darah kedua.
5.      Mengaduk serum dan tetesan darah dengan pinset hingga tercampur.
6.      Mengamati perubahan apakah terjadi penggumpalan darah atau tidak.
7.      Mencatat hasil golongan darah di tabel data kelas.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
            Tabel golongan darah peserta laboratorium genetika biologi B.
 
No           
                                    Nama
      Anti-A
        Anti-B
Golongan darah
A
B
AB
O
1
Suci Alfiah
-
-



ü   
2
Nurrahma 
-
-



ü   
3
Ira Rabiah
-
-


ü   

4
Selviani
-
+

ü   


5
Nur Sakinah 
-
+

ü   


6
Rita Tosang
-
-



ü   
7
Purnama Sari
-
-



ü   
8
Sri Nur Rahmi Nur R.
+
-
ü   



9
Nurul Elviani Paweli
-
+

ü   


10
Risky Nurhikmayani
-
+

ü   


11
Jum Eka Rahayu
-
-



ü   
12
Reski Mandasari
-
-



ü   
13
Annisa Nurul Ilmi
-
+

ü   


14
Nurfaidah
-
+

ü   


15
Wa Ode Umrawati
-
-



ü   
16
Indo Ternri Ampa
-
+

ü   


17
Akbar Yuanda
+
-
ü   



18
Nursehang
+
+


ü   

19
Nurlina
-
+

ü   


20
A.Ida Widyasari
+
-
ü   



21
Suci Muslimah
-
-



ü   
22
Rusli
-
+

ü   


23
Sri Ervina A.
-
-



ü   
24
Lilis Dya Ningsih
-
-



ü   
25
Daud
+
-
ü   



26
Vini Prisilia Bombang
-
-



ü   
27
Susi Wijayanti
+
-
ü   



28
Ade Ayu S.
+
+


ü   

29
Lili Nurendah
-
-



ü   
30
Jumrawati
-
-



ü   
31
Nur Indah Hasanah H.
+
-
ü   



32
Andre
+
-
ü   



33
Sadli Sastrawan
-
+

ü   


34
Novi Lamban
-
+

ü   


35
Santi Sangaji
-
-



ü   
36
Asriani Sahrina
+
-
ü   



37
Mila Karmila
-
+

ü   


38
A.Iin Fadliah
-
+

ü   


39
Lukman S.
+
+


ü   

40
Fildzah A.
-
-



ü   
41
Rahmat Nugraha
-
+

ü   


42
Wahyuni
-
-



ü   
43
Firman Syahputra
+
-
ü   



44
A.Rismayani
-
+

ü   


45
Nindi Ekawati
+
-
ü   



46
Rosiyantuti
+
-
ü   



47
Ahmad Soleh
-
+

ü   


Jumlah
11
16
4
16

IV.2 Analisis Data
Frekuensi alel IA, IB, i berdasarkan rumus Hardy-Weinberg : 
           (p+q+r)2 = 1
           (P2+2pq+q2+2qr+2pr+r2)=1
Diketahui orang yang bergolongan darah O = 16
                orang  yang bergolongan darah A = 11
                orang  yang bergolongan darah B = 16
                orang yang bergolongan darah AB = 4
ditanyakan a. Frekuensi alel IA, IB, i
                   b. persentasi genotipe darah
a. frekuensi alel IA, IB, i
1. frekuensi alel i
    r2 = frekuensi golongan darah O
    r2 = 16/47
    r2 = 0,34
    r   = √0,34
    r  = 0,58
Jadi frekuensi alel i adalah 0,58
2.    frekuensi alel IA
(p+r)2 = frekuensi golongan darah A + frekuensi golongan darah B
     (p + r)2 = 11+16/47
     (p + r)2 = 0,57
     (p + r)   = √0,57
     (p + r)    = 0,75
            p    = 0,75 – 0,58
            p    = 0,17
Jadi frekuensi alel IA adalah 0,17
3.    frekuensi alel IB  
p + q + r = 1
               q  = 1 – (p + r)
                q  = 1  ̶  (0,17 + 0,58)
                q = 1 ̶  0,75
                q = 0,25
Jadi frekuensi alel IB adalah 0,25,.
Frekuensi genotipe darah
1.    untuk alel IA = p2
              = (0,17)2
                        = 0,0289
2.    untuk alel IB = q2
             = (0,25)2
                 = 0,0625  b
B. Persentasi genotipe darah
            Berdasarkan hukum Hardy-waeinberg :
P2IAIA + 2prIAi + q2IBIB + 2qrIBi + 2pqIAIB + r2ii
Frekuensi golongan darah :
1.    golongan darah A homozigot (P2IAIA) =  0,0289 x 47 = 2 orang
2.    golongan darah A heterozigot (2prIAi) = 2 x 0,17 x 0,54 x 47 = 9 orang
3.    golongan darah B homozigot (q2IBIB)  = 0,0625 x 47  = 4 orang
4.    golongan darah heterozigot (2qrIBi)     = 2 x 0,25 x 0,54 x 47 = 12 orang
5.    golongan darah AB (2pqIAIB)               = 2 x 0,17 x 0,25 x 47 = 4 orang
6.    golongan darah O (r2ii)                         = 0,34 x 47 =16 orang
jadi persentasi golongan darah A, B, AB, dan O adalah :
1.     persentasi golongan darah A  homozigot = 2/47 x 100% = 4,5%
2.     Persentasi golongan darah A heterozigot = 9/47 x 100% = 19 %
3.    Persentasi golongan darah B homozigot   = 4/47 x 100% = 8,5%
4.    Persentasi golongan darah \B heterozigot  = 12/47 x100% = 25,5%
5.    Persentasi golongan darah AB                 = 4/47 x 100% = 8,5 %
6.    Persentasi golongan darah O                   = 16/47 x 100% = 34%                       
IV.3 Pembahasan
            Percobaan kali ini bertujuan untuk mengetahui genotip dan fenotip darah setiap praktikan. Golongan darah seseorang ditentukan berdasarkan adanya antigen yang terdapat dalam tiap tipe darah. Pada percobaan kali ini akan diteliti mengenai penggolongan darah sistem ABO. Jumlah praktikan yang akan diambil sampel darahnya adalah 47 praktikan. Setelah di tes golongan darah dengan bantuan serum anti-A, serum anti-B, lancet serta autoclick maka didapatkan bahwa golongan darah O sebanyak 16 orang, darah A sebanyak 11 orang, darah B sebanyak 16 orang dan darah AB hanya 4 orang saja.
            Darah AB yang paling sedikit ditemui dan darah O dan B yang banyak ditemui pada pengambilan sampel darah kali ini. Percobaan ini bertujuan untuk menghitung frekuensi masing – masing alel dan persentase genotip darah. Untuk menghitung frekuensi dan persentase, digunakan rumus Hardy-Wenberg. Didapatkan hasil yaitu alel IA = 0,17, alel IB = 0,25 dan i = 0,58. Sedangkan pada perhitungan persentase didapatkan hasil yaitu Jadi, persentase genotip darah untuk alel i  = 34,042% , alel IA = 23,40%, alel IB = 34,042%,dan alel IAIB = 8,513%.
Di setiap negara, golongan darah seseorang yang paling paling banyak ditemui tidak selalu sama jumlahnya tergantung etnis yang mendominasi. Namun secara umum, di seluruh dunia darah golongan O+ paling banyak ditemukan sementara golongan AB- paling jarang di temui diseluruh dunia di populasi manapun.
            Berdasarkan faktor rhesusnya, golongan darah yang memiliki rhesus positif lebih banyak dibandingkan rhesus negatif, dengan perbandingan 85 persen dan 15 persen. Artinya golongan A+, B+, AB+ dan O+ secara umum lebih mudah ditemukan dibandingkan golongan darah dengan rhesus negatifnya..
Sementara dari semua jenis golongan darah yang dikenal, golongan darah O rhesus positif atau O+ adalah golongan darah paling banyak ditemukan yakni mencapai 35-40 persen dari populasi dunia. Golongan AB rhesus negatif atau AB- paling jarang ditemukan, hanya sekitar 0,45 persen dari populasi.
            Tidak diketahui pasti apa sebabnya, namun masing-masing golongan darah memiliki dominasi sendiri di wilayah tertentu. AB adalah golongan darah yang paling jarang dimiliki di seluruh dunia, namun paling banyak ditemukan di Jepang, Korea dan beberapa wilayah di China. Di beberapa tempat tersebut, perbandingan jumlahnya tak lebih dari 10 persen dari populasi. Mungkin saja golongan darah O banyak ditemukan karena adanya kodominansi pada golongan darah.
 Pada darah, setiap fenotip memiliki alel ganda didalamnya. Misalnya saja pada golongan darah A yang memiliki dua kemungkinan alel yaitu IAIA dan IAi dan golongan darah B juga memiliki dua kemungkinan alel yaitu yaitu IBIB dan IBi. Golongan darah O memiliki genotip ii. Sehingga pada saat terjadi randomisasi (perkawinan acak) pada suatu populasi, golongan darah O lah yang paling banyak karena pada empat golongan darah yang ada yaitu A,B,AB,O, mengandung alel I kecuali pada golongan darah AB yang mengandung alel IAIB dan sangat jarang ditemui karena pada saat terjadi randomisasi, banyak terjadi kodominansi sehingga pewarisan alel IAIB ini sangat jarang ditemui.
Hal ini bisa kita lihat pada saat praktikum alel ganda ini. Praktikan dengan golongan darah O memiliki jumlah terbanyak yaitu 16 dan yang paling sedikit adalah golongan darah AB. Perkawinan antara seseorang bergolongan darah O dengan golongan darah A atau B tidak mungkin menghasilkan anak dengan golongan darah AB. Anak dengan golongan darah AB hanya bisa dihasilkan dari pernikahan orang tua yang memiliki golongan darah A dan B. Itulah yang menjadi alasan mengapa orang yang bergolongan darah AB sangat jarang ditemui.


BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
            Kesimpulan dari percobaan mengenai alel ganda adalah sebagai berikut.
1. Ternyata golongan darah dalam populasi kelas Biologi B yaitu golongan darah A adalah 11 orang, bergolongan darah B 16 orang, bergolongan darah AB 4 orang, dan yang bergolongan darah B berjumlah 16 orang.
2. Golongan darah pada manusia ditentukan oleh alel ganda dimana gen yang menentukan golongan darah disebut gen I (isoaglutinin), sedangkan alel-alelnya ialah i, IA, dan IB. Alel i adalah resesif. Sedangkan alel IA dan IB merupakan alel kodominan, sehingga IA tidak dominan terhadap IB, begitupun sebaliknya IB tidak dominan terhadap IA dan alel IA dan IB tidak ada yang resesif maupun dominan sehingga membentuk golongan darah AB.
3. Pada kelas Biologi B didapatkan hasil frekuensi alel yaitu alel IA = 0,174, alel IB = 0,243 dan i = 0,583.
V.2 Saran
            Sebaiknya serum dan pinset disediakan dalam jumlah yang banyak agar praktikum cepat selesai.


DAFTAR PUSTAKA

Agus, Rosana dan Sjafraenan, 2013. Penuntun Praktikum Genetika Dasar. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Anonim, 2012. Alel Kodominan Pada Golongan Darah. http://biocyber.blogspot.com. Diakses pada tanggal 29 Maret 2013 pukul 11.00 WITA.

Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G., 2010. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Erlangga. Jakarta.
Kimball, J.W., Tjitrosomo, S.S., Sugiri, N., 1983.Biologi Jilid 1 Edisi Kelima.Erlangga. Jakarta.

Murniati, Anggraini, 2010. Penuntun praktikum alel ganda laboratorium genetika. http://biologiUNRI.ac.id. Diakses pada tanggal 29 Maret 2013 pukul 11.35 WITA.

Suryo, H. 1984.Genetika Manusia. Gadja Mada University Press. Yogyakarta.
Siti, Annisa, 2011. Faktor penentu penggolongan darah. http://Sitianiezha.blogspot.com. Diakses pada tanggal 29 Maret 2013 pukul 11.20 WITA.

Utomo, Salim. 2009.Penentuan penggolongan darah pada manusia. http://biologizone.blogspot.com. Diakses pada tanggal 29 Maret 2013 pukul 17.50 WITA.